
Sesi pertama yang dilaksanakan adalah TEMPE MAKING + TASTING yang dibawakan oleh Slow Food Yogyakarta. Sesi ini mendapat perhatian yang baik dari peserta. Pelaksanaan dimulai dengan penjelasan mengenai proses pembuatan Tempe. Peserta dibagikan pengetahuan setiap tahapan, mulai dari proses pencucian dan perebusan kedelai, hingga teknik inokulasi dengan ragi.
Kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan praktik membungkus tempe. Peserta diajarkan dua metode pembungkusan—menggunakan daun pisang untuk hasil tradisional dan diperlihatkan beberapa jenis tempe yang sudah dibranding.. Partisipasi pengunjung sangat aktif; mereka mencoba langsung teknik melipat dan mengemas kedelai yang telah diberi ragi, dipandu oleh fasilitator. Fokus utama peserta adalah menguasai teknik ini untuk replikasi mandiri di rumah.
Sesi diakhiri dengan pencicipan Tempe goreng dari kacang hijau, kacang koro dan kacang kedelai yang baru jadi. Peserta memberikan respon positif terhadap rasa dan tekstur Tempe yang disajikan. Sesi ini berfungsi untuk meningkatkan pemahaman tentang Tempe sebagai produk pangan lokal dan cara pembuatannya.
Sesi berikutnya memperkenalkan Mie Lethek, mi tradisional dari Yogyakarta. Sesi ini dipimpin oleh Chef Yuyun dari Yogyakarta. Mie ini memiliki tekstur kenyal dan warna kusam (lethek) karena dibuat dari bahan baku tepung singkong (tapioka) dan gaplek. Fakta bahwa mi ini bebas gluten (gluten-free) menjadi daya tarik kesehatan yang utama bagi peserta.
Pelaksanaan sesi mencakup demonstrasi singkat mengenai proses pengolahan Mie Lethek, mulai dari bentuk mentah hingga dimasak secara otentik. Peserta menunjukkan minat pada proses pembuatan mi ini yang masih dilakukan secara tradisional, serta komposisi bahan yang menjadikannya bebas gluten.
Sesi kemudian dilanjutkan dengan pencicipan Mie Lethek yang disajikan dengan bumbu tradisional. Peserta menikmati rasa mi yang lezat dan teksturnya yang kenyal. Respon yang diberikan peserta positif, dengan apresiasi khusus terhadap kualitas mi yang sehat dan otentik. Sesi ini berhasil menunjukkan bahwa pangan lokal, seperti Mie Lethek, dapat menjadi pilihan kuliner yang sehat dan relevan.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi pencicipan SAMILER yang diselenggarakan oleh SF PARARA dan Aliansi Organis Indonesia. Fokus utama sesi ini adalah memperkenalkan dua jenis kerupuk berbahan dasar singkong dari Jawa Timur: Samiler dan Opak.
Informasi diberikan terkait perbedaan mendasar dalam proses pembuatannya, meskipun keduanya berbasis singkong. Dijelaskan bahwa Samiler dibuat dengan cara diiris tipis dan langsung digoreng, menghasilkan tekstur yang lebih renyah. Sementara itu, Opak melibatkan proses perebusan dan penjemuran adonan singkong sebelum digoreng, yang menghasilkan tekstur lebih padat dan tebal. Diskusi juga menyoroti peran Aliansi Organis Indonesia dalam mendukung petani lokal.
Setelah mendengarkan informasi mengenai latar belakang dan proses Samiler dan Opak, peserta dipersilakan untuk mencicipi kedua jenis kerupuk singkong tradisional ini. Antusiasme peserta terlihat dari bagaimana mereka mendengarkan cerita dan proses pengolahan hingga selesai, dan kemudian menikmati sesi pencicipan kerupuk. Sesi ini bertujuan untuk meningkatkan apresiasi terhadap pangan olahan tradisional dan mendukung keberlanjutan pertanian singkong.



