
Fokus Acara di hari ke 4 ini adalah untuk mendorong kesadaran dan praktik konsumsi pangan lokal alternatif (Sagu, Sorgum, Jagung) sebagai bagian dari upaya diversifikasi pangan dan pelestarian warisan kuliner Indonesia.
Sesi demo masak dan tasting mie berbahan dasar sagu. Kegiatan dimulai dengan audiens diundang ke booth untuk mengenal Sagu, komoditas yang sering terlupakan namun memiliki potensi besar sebagai sumber karbohidrat berkelanjutan. Tujuannya adalah untuk mendemonstrasikan kemudahan pengolahan sagu menjadi produk modern (mie) yang dapat diterima pasar.
Output dari sesi ini menghasilkan peningkatan pemahaman audiens mengenai manfaat sagu. Mie sagu yang didemokan (Sago Noodle) mendapatkan respons positif dari segi tekstur dan rasa, membuktikan sagu dapat menjadi substitusi mie terigu yang sehat.
Peserta diundang melalui narasi tentang warisan kuliner Nusa Tenggara Timur (NTT). Tujuan dari sesi ini adalah untuk menghidupkan kembali dan mempromosikan Jagung Bose sebagai hidangan pokok bergizi tinggi dan simbol ketahanan pangan komunitas lokal NTT.
Output dari sesi ini menghasilkan wawasan tentang persiapan Jagung Bose yang otentik. Sesi tasting menunjukkan daya tarik hidangan tradisional ini; banyak peserta yang menyatakan ketertarikan untuk mengonsumsi lebih banyak olahan Jagung Bose.
Sesi dibuka dengan cerita tentang 'energi ball’ dari Pulau Sabu, NTT, yang menekankan nilai energi dan kearifan lokal. Tujuan sesi kali ini adalah untuk mendemonstrasikan Wopperagu (pangan tradisional berbasis sorgum/pangan lokal) sebagai makanan energi alami yang ideal dan berkelanjutan.
Output dari sesi ini menghasilkan edukasi mengenai proses pembuatan Wopperagu. Meskipun rasa Wopperagu tergolong unik, sesi tasting berhasil mengedukasi peserta mengenai nilai gizi tinggi dan pentingnya pelestarian pangan energi tradisional ini di tengah gempuran makanan instan.


Sesi ini merupakan penutup yang berfokus pada inovasi pangan lokal untuk kesehatan. Eksplorasi dimulai dengan mengundang audiens untuk berpikir kritis tentang makanan ringan populer yang mereka konsumsi sehari-hari. Tujuan utamanya adalah mendemonstrasikan bagaimana pangan berbasis tapioka/sagu dapat ditingkatkan nilai gizinya secara signifikan melalui fortifikasi dengan sayuran lokal, dalam hal ini bayam. Tim dari Health Heroes dan RISE Foundation menunjukkan bahwa Cilok, makanan yang sangat dikenal, bisa diubah menjadi pilihan yang lebih sehat dan menarik.
Capaian utama dari cooking demo ini adalah keberhasilannya menciptakan kesadaran bahwa modifikasi kecil pada resep tradisional dapat meningkatkan gizi tanpa mengorbankan rasa. Cilok Bayam menerima ulasan yang sangat baik dari segi rasa dan presentasi, menjadikannya model yang menjanjikan untuk program edukasi gizi dan kampanye pangan sehat di tingkat komunitas.
***
Kegiatan Slow Food Communities in Indonesia yang dilaksanakan pada 22 November 2025, yang memfokuskan pada Sagu, Sorgum, dan Jagung, telah menjadi platform yang efektif dalam mendorong diversifikasi pangan dan apresiasi terhadap kearifan lokal.
Seluruh rangkaian sesi, mulai dari eksplorasi produk modern seperti Sago Noodle hingga revitalisasi hidangan tradisional yang kaya nutrisi seperti Jagung Bose dan Wopperagu, secara kolektif mengirimkan pesan yang jelas bahwa Indonesia memiliki alternatif karbohidrat yang melimpah, bergizi, dan berkelanjutan di luar beras. Demonstrasi inovatif seperti Cilok Bayam juga menunjukkan potensi pangan lokal untuk ditingkatkan nilai gizinya, menjadikannya pilihan makanan sehat yang menarik bagi keluarga dan anak-anak.
Keberhasilan program ini terletak pada kemampuannya mengharmoniskan tradisi dengan inovasi, serta model kolaborasi yang kuat antara kementerian dan mitra organisasi masyarakat sipil (NGO). Program ini telah berhasil mengubah persepsi peserta, menegaskan bahwa Sagu, Sorgum, dan Jagung adalah fondasi strategis untuk menjawab tantangan ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, dan pelestarian budaya. Secara keseluruhan, acara ini merupakan langkah signifikan dalam memberdayakan komunitas melalui pengetahuan dan keterampilan praktis terkait pangan lokal mereka sendiri.