cart

Dari Kebon Hiris Bogor, Perempuan Menanam Harapan di Tengah Krisis Iklim dan Pangan

April 23, 2026

Peserta PARARA Women's Day 2026 mengunjungi Kebon Hiris, Bogor, Minggu (19/4/2026), belajar pangan lokal dan praktik hidup selaras dengan alam. (dok. PARARA)

Di tengah ancaman krisis iklim yang kian nyata, upaya menjaga pangan tidak lagi bisa ditunda. Perubahan cuaca ekstrem, degradasi tanah, hingga ketergantungan pada pangan impor menjadi tantangan yang saling terkait. Namun, di sebuah kebun sederhana di Bogor, harapan itu justru tumbuh—pelan, tapi pasti.

Melalui rangkaian PARARA Women’s Day 2026, puluhan peserta diajak melambat. Mereka diajak kembali ke tanah, ke kebun, dan ke praktik hidup yang lebih selaras dengan alam melalui kunjungan ke Kebon Hiris, Minggu (19/4/2026).

Kegiatan ini bukan sekadar wisata edukasi. Ia menjadi ruang refleksi tentang bagaimana krisis iklim berkaitan erat dengan sistem pangan—dan bagaimana perubahan bisa dimulai dari skala paling kecil: keluarga dan komunitas.

Di balik kegiatan ini, ada gerakan yang konsisten mendorong kesadaran tersebut. PARARA (Panen Raya Nusantara) adalah inisiatif berbasis komunitas yang mempromosikan produk lokal, makanan sehat, dan kerajinan dari masyarakat adat seluruh Indonesia melalui festival dua tahunan dan toko fisik, PARARA Ethical Store & Restaurant. Fokusnya adalah pada keberlanjutan, pangan lokal, dan mendukung ekonomi masyarakat adat.

Melalui berbagai program, termasuk kunjungan lapangan seperti ini, PARARA mempertemukan publik dengan praktik nyata di akar rumput. Maria Cristina S. Guerrero dari PARARA menyebut, membangun kesadaran pangan tidak cukup lewat kampanye, tetapi perlu pengalaman langsung.

“Orang perlu melihat, menyentuh, dan merasakan sendiri bagaimana pangan itu ditanam dan diproses,” ujarnya.

Di Kebon Hiris, gagasan itu menemukan bentuknya. Kebun ini dikelola oleh pasangan Asep Sugih Sultana dan Mia Siskawati, seorang akademisi sekaligus aktivis lingkungan, yang membangun ruang hidup berbasis agroekologi.

“Kami ingin membangun ekosistem, bukan egosistem,” kata Mia.

Di tengah krisis iklim, pendekatan ini menjadi relevan. Pertanian konvensional yang bergantung pada bahan kimia terbukti mempercepat kerusakan tanah dan memperbesar emisi. Sebaliknya, pertanian alami seperti yang diterapkan di Kebon Hiris berupaya memulihkan keseimbangan alam.

Tanaman ditanam beragam dan saling mendukung. Kacang-kacangan mengikat nitrogen, bunga mengundang serangga baik, sementara pohon-pohon besar menjaga kelembapan tanah. Semua dirancang untuk meniru cara kerja alam.

Demo memasak di Kebon Hiris oleh Chef Putri pada Minggu, 19 April 2026 (Sukowati Utami)

“Kalau ekosistemnya sehat, dia akan bekerja sendiri,” ujar Asep.

Upaya ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada ketahanan pangan. Di tengah ancaman krisis iklim yang bisa mengganggu produksi pangan global, pendekatan berbasis lokal menjadi semakin penting.

Hal serupa juga digaungkan oleh GreenFaith Indonesia/Lentera Hijau, yang dalam beberapa waktu terakhir aktif mengampanyekan konsumsi pangan lokal sebagai bagian dari aksi iklim.

Selama satu bulan penuh pada Ramadan lalu, komunitas ini mengajak masyarakat untuk berbuka dan sahur dengan bahan pangan lokal. Kampanye ini tidak hanya menekankan aspek kesehatan, tetapi juga dampak ekologis.

Pangan lokal dinilai lebih ramah lingkungan karena tidak membutuhkan distribusi jarak jauh yang menghasilkan emisi karbon tinggi. Selain itu, bahan lokal umumnya lebih terjangkau dan mendukung ekonomi petani setempat.

Dalam konteks krisis iklim, pilihan sederhana seperti apa yang kita makan menjadi bagian dari solusi.

Apa yang dilakukan di Kebon Hiris sejalan dengan semangat tersebut. Peserta tidak hanya belajar menanam, tetapi juga melihat bagaimana hasil kebun diolah menjadi makanan.

Melalui demo memasak oleh Chef Putri, berbagai bahan lokal diolah menjadi hidangan menarik. Mulai dari nasi sorgum, nasi liwet ubi ungu, hingga olahan sederhana seperti pecak terong dan oseng kulit singkong.

Menu penutup pun tak kalah unik, memadukan sorgum, ubi ungu, chia seed, gula palm, dan mulberry. Semua menunjukkan bahwa pangan lokal tidak kalah kreatif dan bernilai dibanding bahan impor.

Lebih jauh, Kebon Hiris juga menjadi ruang eksperimen. Mereka mengembangkan sistem biopori dan fermentasi alami untuk meningkatkan kualitas tanah dan pakan. Pendekatan ini bahkan telah dicoba pada sektor lain, termasuk perikanan dan pertanian sawit.

Hasilnya, tanaman lebih tahan terhadap perubahan cuaca, masa simpan lebih panjang, dan ketergantungan terhadap bahan kimia dapat ditekan—hal yang krusial di tengah ketidakpastian iklim.

Meski begitu, perjalanan ini tidak selalu mulus. Serangan hama, keterbatasan lahan, hingga tantangan sosial menjadi bagian dari proses.

“Gagal itu bagian dari belajar,” kata Asep.

Namun justru dari proses itu, Kebon Hiris tumbuh sebagai ruang belajar bersama. Komunitas lokal, mahasiswa, hingga kelompok perempuan datang untuk belajar dan berbagi pengalaman.

Peran perempuan dalam konteks ini menjadi penting. Mereka tidak hanya mengelola pangan di tingkat rumah tangga, tetapi juga menjadi penjaga pengetahuan lokal dan keberlanjutan.

Melalui PARARA Women’s Day 2026, peran itu ditegaskan kembali. Bahwa di tengah krisis iklim, perempuan menjadi salah satu garda depan dalam menjaga kehidupan.

Kebon Hiris menjadi contoh bahwa solusi tidak selalu datang dari kebijakan besar. Ia bisa tumbuh dari kebun kecil, dari benih-benih lokal, dan dari kesadaran untuk hidup lebih selaras dengan alam.

Di sana, krisis iklim tidak hanya dibicarakan, tetapi dijawab, satu tanaman dalam satu waktu.***

Editor: Sukowati Utami JI

Sumber: hukamanews.com

Copyright 2025 © Panen Raya Nusantara
crossmenu-circle linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram