cart

SAGUMI – SAGU KAMI, untuk Indonesia yang lebih Sehat

May 21, 2026

Pernahkah kamu membayangkan menjelajahi rawa-rawa hijau di Sulawesi Tenggara yang menyimpan kekayaan alam tersembunyi. Di kawasan Kendari, terhampar sekitar 3.000 ha lahan yang didominasi oleh pohon sagu. Pohon ini tumbuh subur di ekosistem rawa dan memiliki peran krusial dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Keberadaan sagu secara alami berfungsi sebagai penyimpan cadangan air tanah, sehingga kawasan ini tetap lembap dan terjaga kelembapannya bahkan saat musim kemarau tiba. Berbeda dengan perkebunan kelapa sawit yang cenderung monokultur, lahan sagu memungkinkan sistem tumpang sari. Petani bisa menanam durian, langsat, atau tanaman buah lainnya di sela-sela pohon sagu tanpa mengganggu pertumbuhan tanaman utama. Kondisi ini menjadikan sagu sebagai salah satu contoh nyata pengelolaan hasil hutan bukan kayu yang selaras dengan prinsip kelestarian ekosistem.

Gambar 1 Proses Produksi di SAGUMI

Sayangnya, sejak era 1980an, kebijakan yang mempromosikan beras sebagai karbohidrat utama perlahan menggeser sagu dari meja makan masyarakat. Banyak olahan tradisional tergantikan oleh produk berbasis gandum yang sebenarnya bukan merupakan pangan lokal Indonesia. Menyadari pergeseran ini, Ibu Hajar S.Ag hadir sebagai pegiat pangan lokal yang gigih mengembalikan sagu ke posisinya. Ia menemukan bahwa sagu memiliki keunggulan kesehatan yang sering terabaikan. Tepung sagu bersifat bebas gluten sehingga lebih mudah dicerna oleh tubuh manusia. Enzim pencernaan bekerja lebih optimal ketika mengolah kue berbahan sagu dibandingkan dengan adonan terigu yang cenderung menggumpal dan membebani usus. Dari temuan sederhana inilah, Ibu Hajar mulai bereksperimen menciptakan camilan sehat yang kemudian ia beri nama SAGUMI. Awalnya produk ini dikenal dengan nama SAGUKU, namun pada tahun 2022 terjadi sengketa merek dagang karena pihak lain telah mendaftarkan nama tersebut secara resmi di HAKI. Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bahwa perlindungan hukum atas identitas usaha harus segera dilakukan sejak awal untuk menghindari kerugian material maupun reputasi di kemudian hari.

Gambar 2 Para Pekerja di SAGUMI mendapat Kunjungan dari Staff Khusus Presiden

Kekuatan utama SAGUMI terletak pada tim yang mengelola proses produksinya. Sebanyak 12 perempuan lokal dengan rentang usia 25 hingga 54 tahun menjadi tulang punggung operasional harian. Sebelumnya, banyak dari mereka tidak memiliki kesibukan tetap yang menghasilkan pendapatan stabil. Dengan bergabung di SAGUMI, mereka kini memiliki pekerjaan rutin, mendapatkan penghasilan sendiri, dan mampu membiayai pendidikan anak-anak. Permintaan untuk bergabung memang masih tinggi, namun Ibu Hajar sengaja membatasi jumlah pekerja agar produksi tetap terkendali dan tidak terjadi kelebihan stok yang berujung pada pemborosan bahan baku. Di sisi lain, tim pemasaran dan pengelolaan media sosial dipercayakan kepada generasi muda di bawah 25 tahun. Strategi ini sengaja dilakukan agar kampanye pangan lokal dapat menyentuh kalangan Gen Z dengan bahasa yang relevan, sekaligus menyelipkan edukasi tentang perbedaan produk bebas gluten dengan produk konvensional serta dampak kesehatan jangka panjangnya.

Gambar 3 Produk-Produk SAGUMI

Proses penciptaan produk SAGUMI tidak dilakukan secara asal. Setiap varian baru melalui masa uji coba yang bisa mencapai tiga bulan sebelum diluncurkan ke pasaran. Resep asli seperti Biskuit Sagu Mete Daun Kelor merupakan hasil eksperimen mandiri Ibu Hajar, sementara varian Crispy Kukis Brownies Coklat terinspirasi saat mengikuti pameran di Surabaya. Sebelum diproduksi massal, setiap resep wajib melewati tahap uji organoleptik yang melibatkan minimal 40 orang panelis. Metode ini menilai warna, aroma, rasa, dan tekstur secara subjektif namun terstruktur. Hanya hasil yang menerima respons positif yang akan dilanjutkan ke tahap produksi. Bahan baku tepung sagu dibeli langsung dari petani di hulu, sementara bahan pelengkap seperti daun kelor dan mete diprioritaskan dari pemasok lokal terdekat. Daun kelor dipilih karena statusnya sebagai superfood yang kaya nutrisi, sehingga kombinasi dengan sagu menghasilkan camilan yang tidak hanya lezat tetapi juga bergizi tinggi.

Gambar 4 Business Matching dengan Buyer Malaysia

Dampak yang ditimbulkan oleh SAGUMI melampaui sekadar nilai ekonomi. Secara ekologis, keberadaan industri hilir seperti ini memberikan insentif langsung kepada petani hulu untuk terus mempertahankan kebun sagu daripada mengalihfungsikannya menjadi lahan komoditas lain. Secara sosial, kegiatan penguatan ekonomi yang dilakukan oleh Aliansi Perempuan dapat memperkuat peran perempuan dalam pengambilan keputusan ekonomi rumah tangga dan menciptakan rantai nilai yang inklusif. Secara kesehatan, produk ini menawarkan alternatif camilan yang aman bagi penderita sensitivitas gluten sekaligus mendukung pola makan berbasis pangan lokal. Dari sisi profitabilitas, SAGUMI yang awalnya memulai dari tingkat Kelurahan kini telah berhasil menembus pasar nasional melalui kolaborasi dengan Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK) dan PARARA, dengan distribusi yang menjangkau Jakarta dan Bali. Lembaga seperti Bank Indonesia dan FAO  (Food and Agriculture Organization) atau Organisasi Pangan dan Pertanian turut memberikan pendampingan teknis serta fasilitas promosi di dalam maupun luar negeri. SAGUMI juga rutin diundang berbagi pengalaman di berbagai universitas, menunjukkan bahwa model usaha ini diakui secara akademis dan praktis.

Gambar 5 SAGUMI Dianugerahi UMKM Unggulan Go Ekspor oleh Bank Indonesia Sulawesi Tenggara

Meskipun telah meraih berbagai pencapaian, perjalanan SAGUMI tidak lepas dari tantangan nyata. Di sektor hulu, proses pengeringan tepung sagu masih sangat bergantung pada sinar matahari. Saat musim hujan atau cuaca mendung berkepanjangan, kualitas pengeringan menurun dan kapasitas produksi hulu menyusut. Selain itu, pada musim tertentu petani sagu beralih fokus menggarap lahan sawah, sehingga pasokan tepung menjadi tidak stabil dan berdampak langsung pada kelancaran produksi hilir. Di sisi pasar, lidah masyarakat Indonesia yang sudah terbiasa dengan keelastisan terigu membuat adaptasi terhadap tekstur sagu yang lebih kasar dan rapuh membutuhkan waktu. Mengolah sagu memang memerlukan keahlian khusus karena harus diuji berkali-kali dan bahkan menurut Ibu Hajar, membutuhkan perasaan khusus dalam proses produksinya. Tantangan lain adalah biaya pengurusan izin ekspor yang cukup besar bagi skala UMKM, sehingga saat ini fokus utama masih dipertahankan pada konsolidasi pasar domestik sembari mempersiapkan prasyarat regulasi.

Harapan ke depan sangatlah jelas. SAGUMI bercita-cita menembus pasar ekspor, memperluas kapasitas produksi, dan memberdayakan lebih banyak masyarakat sekitar. Ibu Hajar juga memiliki aspirasi kuat agar olahan sagu dapat masuk ke dalam program makanan bergizi gratis untuk anak anak sekolah, sebuah harapan yang sempat ingin ia sampaikan secara langsung kepada staf khusus kepresidenan namun terhalang padatnya agenda kunjungan. Pesan yang ia titipkan sederhana namun mendalam. Mencintai produk lokal sesungguhnya adalah wujud nyata mencintai Masyarakat lokal itu sendiri karena telah memberdayakannya, sementara menjaga pola makan sehat merupakan investasi paling berharga yang bisa kita wariskan kepada generasi mendatang. Dengan dukungan yang tepat, model usaha berbasis sagu ini dapat direplikasi di wilayah lain, memperkuat ketahanan pangan lokal, dan membuktikan bahwa pelestarian ekosistem rawa dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Copyright 2025 © Panen Raya Nusantara
crossmenu-circle linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram