
Rabu, 19 November 2025, menjadi awal perjalanan kami di Bacolod, Filipina, dalam ajang Terra Madre Asia & Pacific 2025. Fokus utama kami hari ini adalah memperkenalkan kekayaan warisan pangan tradisional dari Kalimantan—mulai dari Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, hingga Kalimantan Utara—kepada para peserta internasional.
Sesi eksplorasi dimulai dengan memperkenalkan kekayaan tradisi minuman fermentasi dari Kalimantan Barat. Peserta Terra Madre Asia & Pacific 2025 diajak berkumpul di stand pemeran Slow Food Indoensia untuk mencicipi Arak Beras, minuman fermentasi tradisional berbasis beras.
Sesi ini bertujuan untuk mendokumentasikan dan mempromosikan proses pengolahan pangan tradisional yang unik di Indonesia.
Arak Beras menyajikan profil rasa yang seimbang antara manis alami, keasaman lembut dari fermentasi, dan sedikit sensasi hangat. Minuman ini berhasil menarik perhatian karena proses pembuatannya yang natural dan kaitannya dengan praktik pertanian lokal.
Sesi kedua menjadi puncak antusiasme peserta dengan fokus pada beragam kuliner khas Kutai Barat.
Lima varian Nasi Huma, nasi dari padi ladang khas Kutai Barat disajikan untuk menunjukkan keragaman varietas beras lokal. Variasi ini menampilkan perbedaan mencolok dalam tekstur (pulen hingga pera) dan aroma, menyoroti pentingnya keanekaragaman hayati padi tradisional.
Untuk melengkapi Nasi Huma, disajikan dua hidangan utama pelengkap yang memicu keramaian. Kami menghadirkan kerupuk ikan khas seperti Kerupuk Ikan Belida, Kerupuk Ikan Haruan (gabus), dan Kerupuk Bumbu (varian dengan rempah-rempah). Sebagai teman santap, ada juga Sanga Cabe Ikan Belida (Sambal tumis/goreng dengan Ikan Belida) dan Sanga Cabe Ikan Lele (Sambal tumis/goreng dengan Ikan Lele).
Tingginya minat terhadap kuliner Kutai Barat ini sangat terlihat. Peserta Terra Madre Asia & Pacific 2025 memadati area pencicipan, menunjukkan keinginan besar untuk merasakan cita rasa otentik Kalimantan. Melihat respons yang luar biasa ini, perwakilan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) yang hadir juga menunjukkan antusiasme tinggi dan memberikan apresiasi atas upaya promosi warisan kuliner Indonesia.
Catatan Khusus: Kerupuk Ikan, khususnya, menjadi favorit. Banyak peserta yang berniat membeli, namun delegasi hanya membawa sampel dalam jumlah terbatas untuk keperluan presentasi, sehingga produk tersebut tidak dapat dijual. Hal ini menggarisbawahi potensi pasar yang besar untuk produk-produk pangan tradisional Kalimantan di kancah internasional.
Sesi penutup berfokus pada kekayaan padi warisan dari masyarakat adat Krayan, Kalimantan Utara. Tiga varian nasi dari padi warisan Krayan disajikan. Nasi ini terasa istimewa, padi Krayan terkenal karena ditanam di dataran tinggi dengan metode tradisional dan sering dianggap memiliki kualitas rasa dan aroma yang superior. Mencicipi varian ini melengkapi eksplorasi, menunjukkan kekayaan dan adaptasi padi Indonesia dari ladang hingga dataran tinggi.
Kegiatan pencicipan pada 19 November 2025 di Terra Madre Asia & Pacific 2025 berjalan sukses dan melampaui ekspektasi dalam hal penerimaan. Keunikan Arah Beras, keragaman Nasi Huma dan Sanga Cabe Kutai Barat, serta kekayaan Padi Warisan Krayan, semuanya berhasil mempromosikan pangan tradisional Kalimantan sebagai bagian integral dari Slow Food Movement global.
Antusiasme peserta dan dukungan KBRI menegaskan pentingnya upaya berkelanjutan dalam membawa produk pangan warisan Indonesia ke panggung dunia.





