cart

Sesi 1 - Indonesian Sweetener tasting + Diniyohu tasting

Sesi ini merupakan sesi tasting dari Gula Lontar, Gula Aren dan Gula Singkong bagi para pengunjung. Para pengunjung mengemukakan bahwa mereka baru menyadari bahwa ada banyak pemanis dan bahan dasar bagi pemanis di Indonesia yang umumnya berbeda berdasarkan dengan daerah penghasilnya. Dalam sesi ini juga dibuat bubur diniyohu yang merupakan bubur manis khas manado. Bubur Diniyohu ini berbahan dasar sagu dan bahan pelengkap lainnya. Bubur diniyohu ini menggunakan teknik sagu menggumpal yang mirip dengan boba yang saat ini ramai di pasaran. Taste tasting 3 jenis gula didalam booth Indonesia juga mendapatkan respons dan antusias yang baik, banyak yang berpendapat bahwa jenis gula yang ada memiliki tingkat kemanisan yang berbeda, aroma yang berbeda dan juga aftertaste, karena dalam gula lontar yang disediakan menggunakan pengasapan perapian tungku yang membuat rasa atau aftertaste dari si gula lontar menjadi lebih smoky. Untuk gula singkong sendiri, banyak orang yang baru pernah mendengar dan merasakan bahwa singkong bisa dibuat menjadi gula. Semua gula yang dijajakan memiliki Glikemik Index yang lebih kecil dibandingkan dengan gula tebu

Sesi 2 - Indonesian Honey Taste Testing

Dalam sesi ini dipersiapkan tiga madu dari tiga pulau di Indonesia yakni Pulau Jawa (Ujung Kulon), Pulau Kalimantan (Kapuas Hulu), dan Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (Mutis). Ketiga madu ini berasal dari petani madu hutan yang tergabung dalam Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI). Pengunjung ramai berdatangan untuk mencicipi 3 jenis madu hutan yang ada, mendapatkan antusias karena rasa dari madu yang memiliki kadar air masih cukup tinggi menjadikannya dianggap memiliki rasa alkohol (seperti wine). Banyak yang berminat untuk membeli dan membawa pulang namun madu yang dijual sudah terjual habis di hari sebelumnya.


Fokus Acara  di hari ke 4 ini adalah untuk mendorong kesadaran dan praktik konsumsi pangan lokal alternatif (Sagu, Sorgum, Jagung) sebagai bagian dari upaya diversifikasi pangan dan pelestarian warisan kuliner Indonesia.

Sesi  1-  Sago Noodle

Sesi demo masak dan tasting mie berbahan dasar sagu. Kegiatan dimulai dengan audiens diundang ke booth untuk mengenal Sagu, komoditas yang sering terlupakan namun memiliki potensi besar sebagai sumber karbohidrat berkelanjutan. Tujuannya adalah untuk mendemonstrasikan kemudahan pengolahan sagu menjadi produk modern (mie) yang dapat diterima pasar.

Output dari sesi ini menghasilkan peningkatan pemahaman audiens mengenai manfaat sagu. Mie sagu yang didemokan (Sago Noodle) mendapatkan respons positif dari segi tekstur dan rasa, membuktikan sagu dapat menjadi substitusi mie terigu yang sehat.

Sesi 2 - Jagung Bose

Peserta diundang melalui narasi tentang warisan kuliner Nusa Tenggara Timur (NTT). Tujuan dari sesi ini adalah untuk menghidupkan kembali dan mempromosikan Jagung Bose sebagai hidangan pokok bergizi tinggi dan simbol ketahanan pangan komunitas lokal NTT.

Output dari sesi ini menghasilkan wawasan tentang persiapan Jagung Bose yang otentik. Sesi tasting menunjukkan daya tarik hidangan tradisional ini; banyak peserta yang menyatakan ketertarikan untuk mengonsumsi lebih banyak olahan Jagung Bose.

Sesi 3 - Wopperagu

Sesi dibuka dengan cerita tentang 'energi ball’ dari Pulau Sabu, NTT, yang menekankan nilai energi dan kearifan lokal. Tujuan sesi kali ini adalah untuk mendemonstrasikan Wopperagu (pangan tradisional berbasis sorgum/pangan lokal) sebagai makanan energi alami yang ideal dan berkelanjutan.

Output dari sesi ini menghasilkan edukasi mengenai proses pembuatan Wopperagu. Meskipun rasa Wopperagu tergolong unik, sesi tasting berhasil mengedukasi peserta mengenai nilai gizi tinggi dan pentingnya pelestarian pangan energi tradisional ini di tengah gempuran makanan instan.

Sesi 4 - Cilok Bayam

Sesi ini merupakan penutup yang berfokus pada inovasi pangan lokal untuk kesehatan. Eksplorasi dimulai dengan mengundang audiens untuk berpikir kritis tentang makanan ringan populer yang mereka konsumsi sehari-hari. Tujuan utamanya adalah mendemonstrasikan bagaimana pangan berbasis tapioka/sagu dapat ditingkatkan nilai gizinya secara signifikan melalui fortifikasi dengan sayuran lokal, dalam hal ini bayam. Tim dari Health Heroes dan RISE Foundation menunjukkan bahwa Cilok, makanan yang sangat dikenal, bisa diubah menjadi pilihan yang lebih sehat dan menarik.

Capaian utama dari cooking demo ini adalah keberhasilannya menciptakan kesadaran bahwa modifikasi kecil pada resep tradisional dapat meningkatkan gizi tanpa mengorbankan rasa. Cilok Bayam menerima ulasan yang sangat baik dari segi rasa dan presentasi, menjadikannya model yang menjanjikan untuk program edukasi gizi dan kampanye pangan sehat di tingkat komunitas.

***


Kegiatan Slow Food Communities in Indonesia yang dilaksanakan pada 22 November 2025, yang memfokuskan pada Sagu, Sorgum, dan Jagung, telah menjadi platform yang efektif dalam mendorong diversifikasi pangan dan apresiasi terhadap kearifan lokal.

Seluruh rangkaian sesi, mulai dari eksplorasi produk modern seperti Sago Noodle hingga revitalisasi hidangan tradisional yang kaya nutrisi seperti Jagung Bose dan Wopperagu, secara kolektif mengirimkan pesan yang jelas bahwa Indonesia memiliki alternatif karbohidrat yang melimpah, bergizi, dan berkelanjutan di luar beras. Demonstrasi inovatif seperti Cilok Bayam juga menunjukkan potensi pangan lokal untuk ditingkatkan nilai gizinya, menjadikannya pilihan makanan sehat yang menarik bagi keluarga dan anak-anak.

Keberhasilan program ini terletak pada kemampuannya mengharmoniskan tradisi dengan inovasi, serta model kolaborasi yang kuat antara kementerian dan mitra organisasi masyarakat sipil (NGO). Program ini telah berhasil mengubah persepsi peserta, menegaskan bahwa Sagu, Sorgum, dan Jagung adalah fondasi strategis untuk menjawab tantangan ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, dan pelestarian budaya. Secara keseluruhan, acara ini merupakan langkah signifikan dalam memberdayakan komunitas melalui pengetahuan dan keterampilan praktis terkait pangan lokal mereka sendiri.

Sesi 1. Tempe

Sesi pertama yang dilaksanakan adalah TEMPE MAKING + TASTING yang dibawakan oleh Slow Food Yogyakarta. Sesi ini mendapat perhatian yang baik dari peserta. Pelaksanaan dimulai dengan penjelasan mengenai proses pembuatan Tempe. Peserta dibagikan pengetahuan setiap tahapan, mulai dari proses pencucian dan perebusan kedelai, hingga teknik inokulasi dengan ragi.

Kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan praktik membungkus tempe. Peserta diajarkan dua metode pembungkusan—menggunakan daun pisang untuk hasil tradisional  dan diperlihatkan beberapa jenis tempe yang sudah dibranding.. Partisipasi pengunjung sangat aktif; mereka mencoba langsung teknik melipat dan mengemas kedelai yang telah diberi ragi, dipandu oleh fasilitator. Fokus utama peserta adalah menguasai teknik ini untuk replikasi mandiri di rumah.

Sesi diakhiri dengan pencicipan Tempe goreng dari kacang hijau, kacang koro dan kacang kedelai yang baru jadi. Peserta memberikan respon positif terhadap rasa dan tekstur Tempe yang disajikan. Sesi ini berfungsi untuk meningkatkan pemahaman tentang Tempe sebagai produk pangan lokal dan cara pembuatannya.

Sesi 2- Mie Lethek

Sesi berikutnya memperkenalkan Mie Lethek, mi tradisional dari Yogyakarta. Sesi ini dipimpin oleh Chef Yuyun dari Yogyakarta. Mie ini memiliki tekstur kenyal dan warna kusam (lethek) karena dibuat dari bahan baku tepung singkong (tapioka) dan gaplek. Fakta bahwa mi ini bebas gluten (gluten-free) menjadi daya tarik kesehatan yang utama bagi peserta.

Pelaksanaan sesi mencakup demonstrasi singkat mengenai proses pengolahan Mie Lethek, mulai dari bentuk mentah hingga dimasak secara otentik. Peserta menunjukkan minat pada proses pembuatan mi ini yang masih dilakukan secara tradisional, serta komposisi bahan yang menjadikannya bebas gluten.

Sesi kemudian dilanjutkan dengan pencicipan Mie Lethek yang disajikan dengan bumbu tradisional. Peserta menikmati rasa mi yang lezat dan teksturnya yang kenyal. Respon yang diberikan peserta positif, dengan apresiasi khusus terhadap kualitas mi yang sehat dan otentik. Sesi ini berhasil menunjukkan bahwa pangan lokal, seperti Mie Lethek, dapat menjadi pilihan kuliner yang sehat dan relevan.

Sesi 3- SAMILER

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi pencicipan SAMILER yang diselenggarakan oleh SF PARARA dan Aliansi Organis Indonesia. Fokus utama sesi ini adalah memperkenalkan dua jenis kerupuk berbahan dasar singkong dari Jawa Timur: Samiler dan Opak.

Informasi diberikan terkait perbedaan mendasar dalam proses pembuatannya, meskipun keduanya berbasis singkong. Dijelaskan bahwa Samiler dibuat dengan cara diiris tipis dan langsung digoreng, menghasilkan tekstur yang lebih renyah. Sementara itu, Opak melibatkan proses perebusan dan penjemuran adonan singkong sebelum digoreng, yang menghasilkan tekstur lebih padat dan tebal. Diskusi juga menyoroti peran Aliansi Organis Indonesia dalam mendukung petani lokal.

Setelah mendengarkan informasi mengenai latar belakang dan proses Samiler dan Opak, peserta dipersilakan untuk mencicipi kedua jenis kerupuk singkong tradisional ini. Antusiasme peserta terlihat dari bagaimana mereka mendengarkan cerita dan proses pengolahan hingga selesai, dan kemudian menikmati sesi pencicipan kerupuk. Sesi ini bertujuan untuk meningkatkan apresiasi terhadap pangan olahan tradisional dan mendukung keberlanjutan pertanian singkong.


Sesi I - Wopperagu

Wopparagu adalah kuliner yang terbuat dari kacang tanah, jagung dan sorgum yang disangrai dan dihaluskan kemudian dicampur dengan gula cair lontar dan dibentuk adonan bulat. Dikenal sebagai kuliner asal pulau Sabu , Nusa Tenggara Timur yang saat ini sudah tidak mudah lagi ditemukan di daerah asalnya, namun resep masih dapat diakses. Olahan pangan ini dapat bertahan hingga satu bulan dalam suhu udara karena bahan-bahan yang kering. Memperkenalkan Wopperaggu dalam kegiatan Terra Madre hari ke 2, bukan saja menunjukkan makanannya tapi bagaimana budaya dan pengetahuan leluhur terkait pengolahan pangan. Bagaimana masyarakat di Pulau Sabu menggunakan wopperagu sebagai bekal perjalanan panjang yang cukup mengenyangkan.

Pendekatan “Energy ball” cukup berhasil. Pengunjung yang datang dapat memahami bagaimana kuliner ini dapat memberi manfaat bagi tubuh. Beberapa bahan yang dekat seperti kacang tanah dan jagung cukup dikenal sehingga memberi kesan familiar. Beberapa pengunjung yang mencoba tertarik dengan rasanya dan cara membuatnya dan berdiskusi tentang bahan pengganti jika mereka ingin membuat sendiri dirumah.

Sesi 2 - Madu Hutan

Sesi madu hutan dimulai dengan pemutaran dokumenter tentang bagaimana masyarakat di sekitar Gunung Mutis, Timor Tengah Selatan, NTT mengambil madu. Ritual dan penghormatan kepada alam yang memberikan hasil untuk diambil dilakukan yang diceritakan oleh Pak Novi, salah satu pengambil madu hutan. Setelah itu pengunjung dapat mencicipi rasa madu hutan dari Pulau Timor dan banyak yang merasakan keunikan dari rasanya yang berbeda dari madu pada umumnya.

Sesi 3 -  Jewawut

Jewawut diperkenalkan sebagai salah satu bahan pangan dari pulau Flores yang sudah tidak banyak ditanam oleh masyarakat. Pembukaan sesi dilakukan dengan memperkenalkan Jewawut asal Flores oleh iim, dan bagaimana kaitan jewawut dengan budaya masyarakat, seperti jewawut dipercaya sangat baik bagi perempuan setelah melahirkan. Setelah itu dilanjutkan dengan demo masak bubur jewawut oleh Chef Ragil dan testing oleh publik. Pengunjung terlihat sangat antusias dengan mencicipi bubur jewawut, mendengarkan penyampaian terkait jewawut dan mengambil gambar.


Rabu, 19 November 2025, menjadi awal perjalanan kami di Bacolod, Filipina, dalam ajang Terra Madre Asia & Pacific 2025. Fokus utama kami hari ini adalah memperkenalkan kekayaan warisan pangan tradisional dari Kalimantan—mulai dari Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, hingga Kalimantan Utara—kepada para peserta internasional.

Sesi 1: Warisan Cair Kalimantan Barat – Arak Beras

Sesi eksplorasi dimulai dengan memperkenalkan kekayaan tradisi minuman fermentasi dari Kalimantan Barat. Peserta Terra Madre Asia & Pacific 2025 diajak berkumpul di stand pemeran Slow Food Indoensia untuk mencicipi Arak Beras, minuman fermentasi tradisional berbasis beras.

Sesi ini bertujuan untuk mendokumentasikan dan mempromosikan proses pengolahan pangan tradisional yang unik di Indonesia.

Arak Beras menyajikan profil rasa yang seimbang antara manis alami, keasaman lembut dari fermentasi, dan sedikit sensasi hangat. Minuman ini berhasil menarik perhatian karena proses pembuatannya yang natural dan kaitannya dengan praktik pertanian lokal.

Sesi 2: Pesta Rasa Kutai Barat, Kalimantan Timur – Nasi Huma, Kerupuk Ikan, dan Sanga Cabe

Sesi kedua menjadi puncak antusiasme peserta dengan fokus pada beragam kuliner khas Kutai Barat.

Eksplorasi 5 Varian Nasi Huma

Lima varian Nasi Huma, nasi dari padi ladang khas Kutai Barat disajikan untuk menunjukkan keragaman varietas beras lokal. Variasi ini menampilkan perbedaan mencolok dalam tekstur (pulen hingga pera) dan aroma, menyoroti pentingnya keanekaragaman hayati padi tradisional.

Aneka Kerupuk Ikan dan Sanga Cabe

Untuk melengkapi Nasi Huma, disajikan dua hidangan utama pelengkap yang memicu keramaian. Kami menghadirkan kerupuk ikan khas seperti Kerupuk Ikan Belida, Kerupuk Ikan Haruan (gabus), dan Kerupuk Bumbu (varian dengan rempah-rempah). Sebagai teman santap, ada juga Sanga Cabe Ikan Belida (Sambal tumis/goreng dengan Ikan Belida) dan Sanga Cabe Ikan Lele (Sambal tumis/goreng dengan Ikan Lele).

Antusiasme Peserta dan KBRI

Tingginya minat terhadap kuliner Kutai Barat ini sangat terlihat. Peserta Terra Madre Asia & Pacific 2025 memadati area pencicipan, menunjukkan keinginan besar untuk merasakan cita rasa otentik Kalimantan. Melihat respons yang luar biasa ini, perwakilan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) yang hadir juga menunjukkan antusiasme tinggi dan memberikan apresiasi atas upaya promosi warisan kuliner Indonesia.

Catatan Khusus: Kerupuk Ikan, khususnya, menjadi favorit. Banyak peserta yang berniat membeli, namun delegasi hanya membawa sampel dalam jumlah terbatas untuk keperluan presentasi, sehingga produk tersebut tidak dapat dijual. Hal ini menggarisbawahi potensi pasar yang besar untuk produk-produk pangan tradisional Kalimantan di kancah internasional.

Sesi 3: Keunikan Padi Warisan Krayan – Kalimantan Utara

Sesi penutup berfokus pada kekayaan padi warisan dari masyarakat adat Krayan, Kalimantan Utara. Tiga varian nasi dari padi warisan Krayan disajikan. Nasi ini terasa istimewa, padi Krayan terkenal karena ditanam di dataran tinggi dengan metode tradisional dan sering dianggap memiliki kualitas rasa dan aroma yang superior. Mencicipi varian ini melengkapi eksplorasi, menunjukkan kekayaan dan adaptasi padi Indonesia dari ladang hingga dataran tinggi.

Kegiatan pencicipan pada 19 November 2025 di Terra Madre Asia & Pacific 2025 berjalan sukses dan melampaui ekspektasi dalam hal penerimaan. Keunikan Arah Beras, keragaman Nasi Huma dan Sanga Cabe Kutai Barat, serta kekayaan Padi Warisan Krayan, semuanya berhasil mempromosikan pangan tradisional Kalimantan sebagai bagian integral dari Slow Food Movement global.

Antusiasme peserta dan dukungan KBRI menegaskan pentingnya upaya berkelanjutan dalam membawa produk pangan warisan Indonesia ke panggung dunia.


Hari ini, 10 Desember, kita merayakan Terra Madre Day — hari untuk menghormati para petani dan nelayan kecil, pengrajin pangan lokal, dan komunitas yang menjaga keberagaman pangan Nusantara.

Terra Madre Day kembali mengingatkan kita bahwa perubahan besar dimulai dari pilihan kecil.
Pilih produk lokal. Dukung komunitas. Hargai bumi.

Di Parara, setiap pembelianmu memberdayakan petani, nelayan, pengrajin, dan UMKM perempuan dari berbagai penjuru Indonesia.

Mari terus mendukung pangan good, clean, fair untuk semua.

✨ Selamat Terra Madre Day!

#TerraMadreDay#PararaEthicalStore

Copyright 2025 © Panen Raya Nusantara
crossmenu-circle linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram