cart

Basuki Eka Purnama1

MOMENTUM peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi saksi peluncuran karya literasi penting bagi ekosistem hutan tropis. Buku berjudul Bees and Trees: Book One – Asian Giant Honey Bees, Flowers and Forest Peoples resmi diperkenalkan di Jakarta pada Jumat (5/6/2026). Peluncuran ini digagas oleh PARARA Environment Day berkolaborasi dengan NTFP-EP Asia dan Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI).

Mengusung tema “Fokus pada Lebah dan Pohon”, buku ini bukan sekadar dokumentasi ilmiah, melainkan sebuah refleksi mendalam mengenai masa depan petani madu hutan dan keberlanjutan ekosistem di tengah ancaman perubahan iklim yang kian nyata.

Simbiosis yang Terancam

Buku ini mengupas tuntas hubungan simbiosis mutualisme antara lebah hutan raksasa Asia dengan pohon-pohon penghasil pakan. Pohon menyediakan nektar, serbuk sari, dan tempat bersarang, sementara lebah bertindak sebagai agen penyerbuk alami yang memastikan regenerasi hutan tetap berjalan. Namun, keharmonisan ini sedang berada di ujung tanduk.

Peneliti Pusat Riset Biologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sih Kahono, mengungkapkan bahwa alih fungsi lahan menjadi perkebunan monokultur, seperti kelapa sawit, telah memangkas habitat alami lebah secara drastis. Selain itu, anomali cuaca akibat perubahan iklim mengganggu siklus berbunga tanaman, yang berujung pada terganggunya siklus hidup koloni lebah.

“Koloni lebah ini bermigrasi berdasarkan musim. Suatu saat mereka akan kembali ke hutan asalnya. Masalahnya, bagaimana jika saat mereka kembali, hutannya sudah hilang atau berubah menjadi pemukiman?” ujar Sih Kahono dalam peluncuran tersebut.

Data Teknis Buku & Konteks Ekosistem:

AspekDetail Informasi
Spesies UtamaApis dorsata dan Apis binghami
Cakupan Wilayah Wilayah 5 Negara di Asia
Konten Visual 16 Ilustrasi botani manual oleh IDSBA
Ancaman UtamaDeforestasi, Pestisida, Perubahan Iklim, Erupsi
Gunung Api

Tantangan Ekonomi dan Sosial

Krisis ini tidak hanya berdampak pada alam, tetapi juga pada kesejahteraan manusia. Di Flores, erupsi gunung api dilaporkan merusak pohon-pohon pakan lebah, yang diperparah dengan penurunan daya beli masyarakat terhadap produk madu hutan. Hal ini mengancam mata pencaharian masyarakat adat dan lokal yang selama ini bergantung pada hasil hutan bukan kayu (HHBK).

Menanggapi hal tersebut, Junaidi Zain dari Koperasi Hutan Lestari menekankan pentingnya tata kelola hutan yang bijak. Ia menegaskan komitmen untuk tidak membuka lahan perkebunan di kawasan lindung dan fokus pada pemanfaatan HHBK seperti madu, kemiri, kayu manis, dan rotan.

“Penerapan standar panen lestari sangat krusial. Dengan menjaga pohon madu dan pohon penghasil nektar, kita memastikan produksi madu tetap berkelanjutan tanpa merusak alam,” jelas Junaidi.

Edukasi Melalui Seni Botani

Salah satu daya tarik utama buku Bees and Trees adalah keterlibatan Indonesian Society of Botanical Artists (IDSBA). Sebanyak 16 ilustrasi botani manual ditampilkan untuk mengedukasi publik mengenai jenis-jenis pohon yang menjadi tumpuan hidup lebah. Melalui pendekatan seni, diharapkan kesadaran masyarakat dan pembuat kebijakan meningkat untuk melindungi habitat lebah sebagai bagian dari sistem pangan nasional.

Buku ini diharapkan menjadi katalisator bagi konsumen dan dunia usaha untuk mendukung praktik panen madu yang bertanggung jawab, sekaligus memperkuat perlindungan terhadap sisa-sisa hutan hujan tropis Asia yang masih ada. (Z-1)


  1. Sumber: Media Indonesia ↩︎

Pernahkah kamu bertanya-tanya, siapa yang menjahit pakaian kamu atau siapa yang memetik bahan makanan kamu?

Bayangkan sebuah dunia di mana setiap barang yang kamu pegang memiliki cerita yang jujur. Di Parara, kami percaya bahwa di balik setiap anyaman dan setiap rasa, ada kehidupan yang harus dihargai.

Inilah mengapa kami bergabung dengan World Fair Trade Organization (WFTO). Bukan sekadar sertifikasi produk biasa yang hanya memeriksa satu bahan, WFTO memberikan pengakuan global terhadap seluruh napas bisnis kami.

Dari cara kami memimpin bisnis hingga cara pengrajin di pelosok menerima upah, WFTO memastikan bahwa 100% operasional PARARA berpihak pada manusia dan Bumi.

Bersama WFTO, PARARA bukan lagi sekadar toko, melainkan bagian dari gerakan global untuk mengubah sistem ekonomi menjadi lebih adil. Saat memilih kami, Teman PARARA juga sedang memilih perubahan.

Share post ini jika kamu bangga produk lokal naik kelas!

#FairTrade #PararaIndonesianethicalstore #WFTO #WFTOGuaranteed


Pernahkah kamu membayangkan menjelajahi rawa-rawa hijau di Sulawesi Tenggara yang menyimpan kekayaan alam tersembunyi. Di kawasan Kendari, terhampar sekitar 3.000 ha lahan yang didominasi oleh pohon sagu. Pohon ini tumbuh subur di ekosistem rawa dan memiliki peran krusial dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Keberadaan sagu secara alami berfungsi sebagai penyimpan cadangan air tanah, sehingga kawasan ini tetap lembap dan terjaga kelembapannya bahkan saat musim kemarau tiba. Berbeda dengan perkebunan kelapa sawit yang cenderung monokultur, lahan sagu memungkinkan sistem tumpang sari. Petani bisa menanam durian, langsat, atau tanaman buah lainnya di sela-sela pohon sagu tanpa mengganggu pertumbuhan tanaman utama. Kondisi ini menjadikan sagu sebagai salah satu contoh nyata pengelolaan hasil hutan bukan kayu yang selaras dengan prinsip kelestarian ekosistem.

Gambar 1 Proses Produksi di SAGUMI

Sayangnya, sejak era 1980an, kebijakan yang mempromosikan beras sebagai karbohidrat utama perlahan menggeser sagu dari meja makan masyarakat. Banyak olahan tradisional tergantikan oleh produk berbasis gandum yang sebenarnya bukan merupakan pangan lokal Indonesia. Menyadari pergeseran ini, Ibu Hajar S.Ag hadir sebagai pegiat pangan lokal yang gigih mengembalikan sagu ke posisinya. Ia menemukan bahwa sagu memiliki keunggulan kesehatan yang sering terabaikan. Tepung sagu bersifat bebas gluten sehingga lebih mudah dicerna oleh tubuh manusia. Enzim pencernaan bekerja lebih optimal ketika mengolah kue berbahan sagu dibandingkan dengan adonan terigu yang cenderung menggumpal dan membebani usus. Dari temuan sederhana inilah, Ibu Hajar mulai bereksperimen menciptakan camilan sehat yang kemudian ia beri nama SAGUMI. Awalnya produk ini dikenal dengan nama SAGUKU, namun pada tahun 2022 terjadi sengketa merek dagang karena pihak lain telah mendaftarkan nama tersebut secara resmi di HAKI. Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bahwa perlindungan hukum atas identitas usaha harus segera dilakukan sejak awal untuk menghindari kerugian material maupun reputasi di kemudian hari.

Gambar 2 Para Pekerja di SAGUMI mendapat Kunjungan dari Staff Khusus Presiden

Kekuatan utama SAGUMI terletak pada tim yang mengelola proses produksinya. Sebanyak 12 perempuan lokal dengan rentang usia 25 hingga 54 tahun menjadi tulang punggung operasional harian. Sebelumnya, banyak dari mereka tidak memiliki kesibukan tetap yang menghasilkan pendapatan stabil. Dengan bergabung di SAGUMI, mereka kini memiliki pekerjaan rutin, mendapatkan penghasilan sendiri, dan mampu membiayai pendidikan anak-anak. Permintaan untuk bergabung memang masih tinggi, namun Ibu Hajar sengaja membatasi jumlah pekerja agar produksi tetap terkendali dan tidak terjadi kelebihan stok yang berujung pada pemborosan bahan baku. Di sisi lain, tim pemasaran dan pengelolaan media sosial dipercayakan kepada generasi muda di bawah 25 tahun. Strategi ini sengaja dilakukan agar kampanye pangan lokal dapat menyentuh kalangan Gen Z dengan bahasa yang relevan, sekaligus menyelipkan edukasi tentang perbedaan produk bebas gluten dengan produk konvensional serta dampak kesehatan jangka panjangnya.

Gambar 3 Produk-Produk SAGUMI

Proses penciptaan produk SAGUMI tidak dilakukan secara asal. Setiap varian baru melalui masa uji coba yang bisa mencapai tiga bulan sebelum diluncurkan ke pasaran. Resep asli seperti Biskuit Sagu Mete Daun Kelor merupakan hasil eksperimen mandiri Ibu Hajar, sementara varian Crispy Kukis Brownies Coklat terinspirasi saat mengikuti pameran di Surabaya. Sebelum diproduksi massal, setiap resep wajib melewati tahap uji organoleptik yang melibatkan minimal 40 orang panelis. Metode ini menilai warna, aroma, rasa, dan tekstur secara subjektif namun terstruktur. Hanya hasil yang menerima respons positif yang akan dilanjutkan ke tahap produksi. Bahan baku tepung sagu dibeli langsung dari petani di hulu, sementara bahan pelengkap seperti daun kelor dan mete diprioritaskan dari pemasok lokal terdekat. Daun kelor dipilih karena statusnya sebagai superfood yang kaya nutrisi, sehingga kombinasi dengan sagu menghasilkan camilan yang tidak hanya lezat tetapi juga bergizi tinggi.

Gambar 4 Business Matching dengan Buyer Malaysia

Dampak yang ditimbulkan oleh SAGUMI melampaui sekadar nilai ekonomi. Secara ekologis, keberadaan industri hilir seperti ini memberikan insentif langsung kepada petani hulu untuk terus mempertahankan kebun sagu daripada mengalihfungsikannya menjadi lahan komoditas lain. Secara sosial, kegiatan penguatan ekonomi yang dilakukan oleh Aliansi Perempuan dapat memperkuat peran perempuan dalam pengambilan keputusan ekonomi rumah tangga dan menciptakan rantai nilai yang inklusif. Secara kesehatan, produk ini menawarkan alternatif camilan yang aman bagi penderita sensitivitas gluten sekaligus mendukung pola makan berbasis pangan lokal. Dari sisi profitabilitas, SAGUMI yang awalnya memulai dari tingkat Kelurahan kini telah berhasil menembus pasar nasional melalui kolaborasi dengan Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK) dan PARARA, dengan distribusi yang menjangkau Jakarta dan Bali. Lembaga seperti Bank Indonesia dan FAO  (Food and Agriculture Organization) atau Organisasi Pangan dan Pertanian turut memberikan pendampingan teknis serta fasilitas promosi di dalam maupun luar negeri. SAGUMI juga rutin diundang berbagi pengalaman di berbagai universitas, menunjukkan bahwa model usaha ini diakui secara akademis dan praktis.

Gambar 5 SAGUMI Dianugerahi UMKM Unggulan Go Ekspor oleh Bank Indonesia Sulawesi Tenggara

Meskipun telah meraih berbagai pencapaian, perjalanan SAGUMI tidak lepas dari tantangan nyata. Di sektor hulu, proses pengeringan tepung sagu masih sangat bergantung pada sinar matahari. Saat musim hujan atau cuaca mendung berkepanjangan, kualitas pengeringan menurun dan kapasitas produksi hulu menyusut. Selain itu, pada musim tertentu petani sagu beralih fokus menggarap lahan sawah, sehingga pasokan tepung menjadi tidak stabil dan berdampak langsung pada kelancaran produksi hilir. Di sisi pasar, lidah masyarakat Indonesia yang sudah terbiasa dengan keelastisan terigu membuat adaptasi terhadap tekstur sagu yang lebih kasar dan rapuh membutuhkan waktu. Mengolah sagu memang memerlukan keahlian khusus karena harus diuji berkali-kali dan bahkan menurut Ibu Hajar, membutuhkan perasaan khusus dalam proses produksinya. Tantangan lain adalah biaya pengurusan izin ekspor yang cukup besar bagi skala UMKM, sehingga saat ini fokus utama masih dipertahankan pada konsolidasi pasar domestik sembari mempersiapkan prasyarat regulasi.

Harapan ke depan sangatlah jelas. SAGUMI bercita-cita menembus pasar ekspor, memperluas kapasitas produksi, dan memberdayakan lebih banyak masyarakat sekitar. Ibu Hajar juga memiliki aspirasi kuat agar olahan sagu dapat masuk ke dalam program makanan bergizi gratis untuk anak anak sekolah, sebuah harapan yang sempat ingin ia sampaikan secara langsung kepada staf khusus kepresidenan namun terhalang padatnya agenda kunjungan. Pesan yang ia titipkan sederhana namun mendalam. Mencintai produk lokal sesungguhnya adalah wujud nyata mencintai Masyarakat lokal itu sendiri karena telah memberdayakannya, sementara menjaga pola makan sehat merupakan investasi paling berharga yang bisa kita wariskan kepada generasi mendatang. Dengan dukungan yang tepat, model usaha berbasis sagu ini dapat direplikasi di wilayah lain, memperkuat ketahanan pangan lokal, dan membuktikan bahwa pelestarian ekosistem rawa dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Pernahkah kamu membayangkan menikmati secangkir kopi hangat di tengah pegunungan yang diselimuti kabut tipis? Sensasi itu pasti begitu menenangkan. Apalagi jika kamu tahu bahwa biji kopi tersebut dipetik dengan penuh ketelatenan oleh bapak dan ibu petani yang merawat lahan mereka bukan sekadar untuk mencari nafkah, melainkan juga sebagai wujud cinta terhadap alam. Salah satu tempat istimewa yang menyimpan cerita indah seperti itu terletak di Pegunungan Kamojang, tepatnya di Desa Ibun, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Nama “Ibun” sendiri dalam bahasa Sunda berarti “embun” atau “kabut”, sebuah fenomena alam yang selalu menyapa pengunjung kawasan ini. Terletak pada ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut, sesuai Surat Keputusan Perhutanan Sosial luas kawasan KPS Mulyatani adalah 1.144 ha, dengan area khusus Ibun seluas 245 hektar yang kini hijau dan produktif berkat hamparan kebun kopi Arabika.

Gambar-1-Kondisi-Lahan-Kopi-Ibun
Gambar 1 Kondisi Lahan Kopi Ibun

Kondisi lahan jauh berbeda sebelum tahun 2018. Pengelolaan saat itu masih berada di bawah otoritas Perhutani, yaitu Badan Usaha Milik Negara berbentuk perusahaan umum yang bertugas mengelola sumber daya hutan negara di Pulau Jawa dan Madura secara lestari. Tanah yang kering, berpasir, dan ditumbuhi ilalang liar membuat kawasan sangat rentan terhadap kebakaran yang hampir selalu terjadi setiap tahun. Perubahan besar terjadi ketika masyarakat setempat mendapatkan hak akses resmi melalui skema perhutanan sosial. Dengan semangat yang menggelora, mereka mulai mengubah lahan kritis menjadi kawasan agroforestri yang harmonis. Alih alih menanam satu jenis tanaman secara masif, para petani memilih kopi sebagai komoditas utama karena sistem perakarannya yang kuat mampu mengikat tanah dan mencegah erosi. Di antara barisan pohon kopi, mereka juga menanam alpukat, kayu manis, vanili, nangka, serta berbagai jenis sayuran sebagai tanaman sela. Pola tanam campuran ini memberikan keuntungan ganda. Petani bisa memanen hasil sayur dan buah untuk kebutuhan harian, sembari menunggu panen kopi tahunan yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Dampak positif dari pendekatan ekologis ini sungguh nyata. Sejak penerapan agroforestri, tidak pernah lagi terjadi kebakaran lahan di kawasan tersebut. Para petani bahkan secara swadaya membangun embung kecil untuk menampung air hujan, sehingga cadangan air tetap terjaga saat musim kemarau tiba.

Gambar 2 Kondisi Ekologis Kopi Ibun

Untuk memperkuat fondasi kelembagaan dan memastikan kesejahteraan petani benar benar terwujud, kelompok perhutanan sosial kemudian menggabungkan diri membentuk Koperasi Mulya Tani Nusantara pada tanggal 27 Juli 2024. Koperasi ini lahir dari musyawarah bersama para pendamping dan perwakilan ketua kelompok petani dari 21 desa di 6 kecamatan Kabupaten Bandung. Mereka menyadari bahwa ketidakstabilan harga komoditas, sulitnya akses modal, dan keterbatasan teknologi pertanian menjadi tantangan berat yang mustahil dihadapi sendiri. Melalui koperasi, mereka mengumpulkan sumber daya, mempermudah akses pembiayaan, dan membuka jalur pemasaran yang lebih adil. Hingga bulan Mei 2026, tercatat 534 orang petani yang resmi menjadi anggota koperasi, dengan total petani mitra mencapai 3986 orang. Jumlah ini mencerminkan betapa luasnya dampak sosial yang berhasil dibangun melalui semangat gotong royong dan prinsip ekonomi kerakyatan.

Gambar 3 Kelompok Perhutanan Sosial Mulya Tani

Dalam menjalankan roda bisnisnya, koperasi sangat menjunjung tinggi prinsip perdagangan berkeadilan (Fair Trade). Seluruh alur usaha dibagi menjadi tiga mata rantai yang saling menopang. Mata rantai pertama adalah para petani yang memproduksi kopi dan menjual hasil petik merah dalam bentuk ceri kopi. Mereka menjaga kualitas melalui perawatan berkala sambil tetap memegang teguh nilai nilai konservasi lingkungan. Mata rantai kedua adalah shelter atau tempat penampungan yang berfungsi sebagai pusat pengolahan pascapanen. Di sini, buah kopi diproses secara bertahap hingga menjadi biji hijau siap sangrai dengan standar operasional prosedur yang ketat. Mata rantai ketiga adalah para pembeli yang saat ini didominasi oleh pelaku industri dalam negeri. Koperasi telah menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan ternama seperti Kapal Api, Kopi TUKU, dan Sukafina. Namun karena keterbatasan modal, permintaan dari perusahaan besar tersebut belum dapat dipenuhi secara maksimal.

Petani kopi Ibun memiliki ijin perhutanan sosial, sehingga status tanah mereka adalah legal dan kopi yang dihasilkan dari kawasan ini dapat ditelusuri asalnya. Aspek legal dan ketelusuran ini sangat penting terkait aturan saat ini di Eropa yang meminta produk kopi yang dijual disana dapat ditelusuri sumber asalnya dan tidak berasal dari perusakan hutan (deforestasi).  Dengan terjaminnya aspek ini tentu memberikan keyakinan penuh bagi calon mitra yang ingin bekerja sama secara jangka panjang.

Gambar 4 Kopi cherry di Desa Ibun

Bapak Roni selaku ketua koperasi kerap menyampaikan cita - cita besarnya tentang kemandirian harga. Ia berharap agar nilai jual kopi tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh pembeli atau dimonopoli korporasi besar, melainkan bisa ditetapkan langsung oleh petani yang telah bekerja keras merawat tanaman. Pernyataan ini sejalan dengan dampak nyata yang telah dirasakan. Secara lingkungan, tutupan hutan pulih, mata air kembali mengalir deras, dan keanekaragaman hayati terjaga. Secara sosial, kelembagaan petani menjadi semakin solid, kolaborasi antarwarga menguat, dan posisi tawar mereka di pasar naik signifikan. Secara ekonomi, pendapatan petani meningkat drastis, harga jual ceri kopi menjadi lebih stabil, serta perputaran uang di tingkat desa di beberapa wilayah bahkan telah melampaui alokasi dana desa. Semua indikator ini menunjukkan bahwa perhutanan sosial bukan sekadar program pemerintah, melainkan sebuah ekosistem kehidupan yang benar benar berfungsi.

Gambar 5 Kolaborasi Antarwarga di Koperasi Mulya Tani

Tentu saja perjalanan selama dua tahun ini tidak lepas dari berbagai tantangan. Keterbatasan pembiayaan menjadi kendala utama, mengingat dana yang tersedia baru mampu memenuhi sekitar 12 persen dari total kebutuhan transaksi harian. Akibatnya, serapan hasil panen dari petani belum bisa mencapai titik optimal. Di sisi lain, kapasitas shelter juga masih terbatas. Hanya 4 dari 9 shelter yang telah memenuhi standar operasional baku, sehingga proses pascapanen belum berjalan maksimal dan kapasitas produksi masih tertahan. Selain itu, kapasitas sumber daya manusia di bidang administrasi dan pencatatan keuangan masih perlu ditingkatkan. Sistem transparansi, akuntabilitas, dan penghitungan bisnis yang akurat menjadi prioritas yang harus segera dibenahi. Koperasi juga menyadari bahwa sistem remunerasi bagi pengurus perlu diperbaiki agar roda organisasi dapat berputar lebih sehat.

Untuk menjawab tantangan tersebut, koperasi telah menyusun strategi yang akan dijalankan secara bertahap. Konsolidasi intensif dengan petani di seluruh Kawasan Pegunungan Kamojang akan terus dilakukan guna menjaga soliditas jaringan. Kualitas produk akan dijaga secara ketat, sementara stabilitas ketersediaan pasokan menjadi fokus utama agar kepercayaan pembeli tidak goyah. Pembenahan gudang dan pengadaan mesin penunjang pascapanen terus diupayakan agar seluruh fasilitas memenuhi standar industri. Penyusunan standar operasional yang lebih rinci dan penerapan sistem pencatatan yang transparan menjadi agenda mendesak agar koperasi dapat tumbuh secara berkelanjutan. Di luar aspek teknis, koperasi menyadari bahwa kekuatan terbesar yang belum sepenuhnya digali adalah narasi di balik setiap biji kopi. Kopi Ibun sesungguhnya adalah simbol perjuangan komunitas yang berhasil mengubah lahan rawan kebakaran menjadi paru paru hijau yang produktif. Ke depan, nilai nilai konservasi dan kearifan lokal ini akan dikolaborasikan dengan para mitra dan pembeli, sehingga identitas Kopi Ibun sebagai kopi konservasi semakin dikenal luas. Keunggulan produk ini semakin diperkuat dengan sistem tanam nonmonokultur yang mendukung biodiversitas, serta status grade 1 pada biji Arabika Ibun yang menawarkan profil rasa kompleks dan khas dataran tinggi.

Gambar 6 Produk Kopi Ibun

Koperasi Mulya Tani Nusantara telah membuktikan bahwa model perhutanan sosial dapat menjadi jembatan antara pelestarian ekologi dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Dengan komitmen pada perbaikan tata kelola, peningkatan kapasitas produksi, dan penguatan narasi keberlanjutan, koperasi ini siap melangkah lebih jauh menjadi pemain kunci dalam industri kopi spesialti. Setiap cangkir yang dinikmati bukan sekadar minuman penyemangat pagi, melainkan jejak nyata dari upaya masyarakat menjaga bumi, memberdayakan sesama, dan membangun masa depan yang lebih adil. Dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak akan menjadi bahan bakar utama agar visi besar ini terus bergerak maju, membawa dampak yang lebih luas bagi hutan, petani, dan kita semua.


Peserta PARARA Women's Day 2026 mengunjungi Kebon Hiris, Bogor, Minggu (19/4/2026), belajar pangan lokal dan praktik hidup selaras dengan alam. (dok. PARARA)

Di tengah ancaman krisis iklim yang kian nyata, upaya menjaga pangan tidak lagi bisa ditunda. Perubahan cuaca ekstrem, degradasi tanah, hingga ketergantungan pada pangan impor menjadi tantangan yang saling terkait. Namun, di sebuah kebun sederhana di Bogor, harapan itu justru tumbuh—pelan, tapi pasti.

Melalui rangkaian PARARA Women’s Day 2026, puluhan peserta diajak melambat. Mereka diajak kembali ke tanah, ke kebun, dan ke praktik hidup yang lebih selaras dengan alam melalui kunjungan ke Kebon Hiris, Minggu (19/4/2026).

Kegiatan ini bukan sekadar wisata edukasi. Ia menjadi ruang refleksi tentang bagaimana krisis iklim berkaitan erat dengan sistem pangan—dan bagaimana perubahan bisa dimulai dari skala paling kecil: keluarga dan komunitas.

Di balik kegiatan ini, ada gerakan yang konsisten mendorong kesadaran tersebut. PARARA (Panen Raya Nusantara) adalah inisiatif berbasis komunitas yang mempromosikan produk lokal, makanan sehat, dan kerajinan dari masyarakat adat seluruh Indonesia melalui festival dua tahunan dan toko fisik, PARARA Ethical Store & Restaurant. Fokusnya adalah pada keberlanjutan, pangan lokal, dan mendukung ekonomi masyarakat adat.

Melalui berbagai program, termasuk kunjungan lapangan seperti ini, PARARA mempertemukan publik dengan praktik nyata di akar rumput. Maria Cristina S. Guerrero dari PARARA menyebut, membangun kesadaran pangan tidak cukup lewat kampanye, tetapi perlu pengalaman langsung.

“Orang perlu melihat, menyentuh, dan merasakan sendiri bagaimana pangan itu ditanam dan diproses,” ujarnya.

Di Kebon Hiris, gagasan itu menemukan bentuknya. Kebun ini dikelola oleh pasangan Asep Sugih Sultana dan Mia Siskawati, seorang akademisi sekaligus aktivis lingkungan, yang membangun ruang hidup berbasis agroekologi.

“Kami ingin membangun ekosistem, bukan egosistem,” kata Mia.

Di tengah krisis iklim, pendekatan ini menjadi relevan. Pertanian konvensional yang bergantung pada bahan kimia terbukti mempercepat kerusakan tanah dan memperbesar emisi. Sebaliknya, pertanian alami seperti yang diterapkan di Kebon Hiris berupaya memulihkan keseimbangan alam.

Tanaman ditanam beragam dan saling mendukung. Kacang-kacangan mengikat nitrogen, bunga mengundang serangga baik, sementara pohon-pohon besar menjaga kelembapan tanah. Semua dirancang untuk meniru cara kerja alam.

Demo memasak di Kebon Hiris oleh Chef Putri pada Minggu, 19 April 2026 (Sukowati Utami)

“Kalau ekosistemnya sehat, dia akan bekerja sendiri,” ujar Asep.

Upaya ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada ketahanan pangan. Di tengah ancaman krisis iklim yang bisa mengganggu produksi pangan global, pendekatan berbasis lokal menjadi semakin penting.

Hal serupa juga digaungkan oleh GreenFaith Indonesia/Lentera Hijau, yang dalam beberapa waktu terakhir aktif mengampanyekan konsumsi pangan lokal sebagai bagian dari aksi iklim.

Selama satu bulan penuh pada Ramadan lalu, komunitas ini mengajak masyarakat untuk berbuka dan sahur dengan bahan pangan lokal. Kampanye ini tidak hanya menekankan aspek kesehatan, tetapi juga dampak ekologis.

Pangan lokal dinilai lebih ramah lingkungan karena tidak membutuhkan distribusi jarak jauh yang menghasilkan emisi karbon tinggi. Selain itu, bahan lokal umumnya lebih terjangkau dan mendukung ekonomi petani setempat.

Dalam konteks krisis iklim, pilihan sederhana seperti apa yang kita makan menjadi bagian dari solusi.

Apa yang dilakukan di Kebon Hiris sejalan dengan semangat tersebut. Peserta tidak hanya belajar menanam, tetapi juga melihat bagaimana hasil kebun diolah menjadi makanan.

Melalui demo memasak oleh Chef Putri, berbagai bahan lokal diolah menjadi hidangan menarik. Mulai dari nasi sorgum, nasi liwet ubi ungu, hingga olahan sederhana seperti pecak terong dan oseng kulit singkong.

Menu penutup pun tak kalah unik, memadukan sorgum, ubi ungu, chia seed, gula palm, dan mulberry. Semua menunjukkan bahwa pangan lokal tidak kalah kreatif dan bernilai dibanding bahan impor.

Lebih jauh, Kebon Hiris juga menjadi ruang eksperimen. Mereka mengembangkan sistem biopori dan fermentasi alami untuk meningkatkan kualitas tanah dan pakan. Pendekatan ini bahkan telah dicoba pada sektor lain, termasuk perikanan dan pertanian sawit.

Hasilnya, tanaman lebih tahan terhadap perubahan cuaca, masa simpan lebih panjang, dan ketergantungan terhadap bahan kimia dapat ditekan—hal yang krusial di tengah ketidakpastian iklim.

Meski begitu, perjalanan ini tidak selalu mulus. Serangan hama, keterbatasan lahan, hingga tantangan sosial menjadi bagian dari proses.

“Gagal itu bagian dari belajar,” kata Asep.

Namun justru dari proses itu, Kebon Hiris tumbuh sebagai ruang belajar bersama. Komunitas lokal, mahasiswa, hingga kelompok perempuan datang untuk belajar dan berbagi pengalaman.

Peran perempuan dalam konteks ini menjadi penting. Mereka tidak hanya mengelola pangan di tingkat rumah tangga, tetapi juga menjadi penjaga pengetahuan lokal dan keberlanjutan.

Melalui PARARA Women’s Day 2026, peran itu ditegaskan kembali. Bahwa di tengah krisis iklim, perempuan menjadi salah satu garda depan dalam menjaga kehidupan.

Kebon Hiris menjadi contoh bahwa solusi tidak selalu datang dari kebijakan besar. Ia bisa tumbuh dari kebun kecil, dari benih-benih lokal, dan dari kesadaran untuk hidup lebih selaras dengan alam.

Di sana, krisis iklim tidak hanya dibicarakan, tetapi dijawab, satu tanaman dalam satu waktu.***

Editor: Sukowati Utami JI

Sumber: hukamanews.com

Di Festival Makanan Lokal di Museum Nasional Jakarta, Anna bertemu dengan Maria Cristina Sanchez Guerrero (NTFP-EP Asia), Agasta Adhiguna, dan Anang Setiawan (NTFP-EP Indonesia) - membahas bagaimana usaha yang dipimpin komunitas menghubungkan produsen kecil dengan pasar etis dan mendorong sistem pangan yang adil dan berkelanjutan.

🌾 Pada #HariPanganDunia ini, Anna Adamczyk dari GCBC berada di Indonesia untuk belajar dari “The Great Harvest of the Archipelago” - Panen Raya Nusantara (PARARA) - sebuah inisiatif yang merayakan produk dan produsen lokal, sehat, adil, dan berkelanjutan di Indonesia.

🤝 Dikoordinasi oleh NTFP-EP Indonesia, PARARA mengumpulkan lebih dari 30 organisasi, termasuk koperasi, kelompok perempuan, dan asosiasi pengrajin, untuk mempromosikan produk lokal berkelanjutan dan menghubungkan produsen kecil dengan pasar etis.

🌱 Pendekatan PARARA mencerminkan pekerjaan NTFP-EP yang lebih luas tentang Makanan dan Kesehatan Masyarakat Adat, yang mengadvokasi makanan hutan dan pengetahuan tradisional sebagai kunci bagi gizi dan keanekaragaman hayati. Dengan mendukung Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal untuk mengakses pasar, PARARA membantu memastikan mata pencaharian tetap berakar pada budaya dan ekosistem lokal.

🗨️ “Kami berusaha menghidupkan kembali mata pencaharian komunitas dengan memastikan pendapatan langsung mengalir kepada mereka, sambil membantu mereka menjangkau pasar di luar desa mereka dan menempatkan makanan lokal mereka di pusat perhatian.” - Maria Cristina Sanchez Guerrero, NTFP-EP Asia.

🌾🌏 Melalui Pusat Global untuk Keanekaragaman Hayati dan Iklim (GCBC), Institut Internasional untuk Lingkungan dan Pembangunan (IIED) bermitra dengan NTFP-EP dalam proyek Nature Nurture — mendukung komunitas di tempat-tempat seperti Kalimantan Barat, Indonesia, di mana penelitian memperkuat ketahanan pangan dan keanekaragaman hayati.

🔗 Jelajahi lebih lanjut tentang PARARA: https://parara.org/

🔗 Temukan proyek Nature Nurture: https://lnkd.in/e7NBFY6W

#WorldFoodDay #GCBC #IIED #NTFPEP #PARARA #Biodiversity #IndigenousFood #SustainableLivelihoods #FairTrade #FoodSystems #NatureNurture #FAO

Artikel diterjemahkan dari: https://www.linkedin.com/posts/the-global-centre-on-biodiversity-for-climate_worldfoodday-worldfoodday-gcbc-activity-7384513482861481985-OEl2

Copyright 2025 © Panen Raya Nusantara
crossmenu-circle linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram