cart

Petani madu memanjat pohon tinggi untuk memanen madu dari Gunung Mutis di Pulau Timor (Foto: CIFOR-ICRAF)

Tema FAO untuk Hari Lebah Sedunia 2025, “Bee Inspired by Nature to Nourish us all (Terinspirasi oleh Alam untuk Menyehatkan Kita Semua)”1

Kita mengonsumsi madu di atas pancake, dalam teh, tetapi kita jarang menyadari pentingnya peranan pembuat madu, lebah, dalam ekosistem kita. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menyatakan bahwa “Berkat lebih dari 20.000 spesies lebah dan berbagai penyerbuk liar lainnya, kita dapat memproduksi sebagian besar tanaman pangan yang kita konsumsi. Penyerbuk sangat penting bagi produksi pangan, 75% tanaman pangan di dunia bergantung pada mereka2.”

Madu juga kaya akan antioksidan dan zat antibakteri. Asia, termasuk Indonesia, merupakan habitat lebah raksasa Asia, Apis dorsata, yang sering hidup di sarang terbuka di pohon hutan dan membantu penyerbukan spesies pohon hutan. Sayangnya, lebah-lebah ini terdampak oleh perubahan iklim, konversi lahan dan hutan, serta faktor lain. Karena madu dikenal dapat meningkatkan kekebalan tubuh, madu palsu diproduksi secara massal di seluruh negeri. Hal ini terutama terjadi selama pandemi3.

Acara penutupan Hari Lebah Sedunia di PARARA Cafe, Jakarta Selatan (Foto: PARARA)

Pada 22 Mei, Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI), sebuah asosiasi yang terdiri dari 9 anggota di 7 pulau dan 1.500 petani, mengadakan serangkaian kegiatan untuk memperingati Hari Lebah Sedunia, untuk menarik perhatian pada pentingnya penyerbukan lebah dan meningkatkan kesadaran tentang kontribusi madu bagi kesehatan manusia.

Lebih dari 70 pengumpul dan pengolah madu hutan, ilmuwan, dokter, organisasi masyarakat sipil, dan media hadir secara daring dan luring di PARARA Indonesian Ethical Store di Jakarta Selatan untuk mengikuti acara tersebut.

Pohon madu… Di Larantuka, Flores Timur, pohon madu dapat memiliki ratusan sarang lebah di atasnya (Foto: Eman Kelen)

Dr. Rika Raffiudin dari Universitas IPB (Institut Pertanian Bogor) membagikan penelitian pionir yang dilakukan pada spesies Apis dorsata di Indonesia, yang berpotensi menemukan spesies lebah baru, serta menekankan ancaman hilangnya habitat lebah dan kebijakan yang dibuat untuk melindungi situs sarang lebah. Ancaman hilangnya habitat lebah juga disuarakan oleh anggota JMHI di Riau (Wazar) dan Sumbawa (Junaidi) terkait konversi hutan menjadi perkebunan monokultur yang luas. Ironisnya, Dr. Eddy Kristianto membagikan potensi produk bernilai tambah dari madu, seperti anggur madu dan kombucha madu. Konversi hutan menjadi perkebunan akan menghilangkan potensi tersebut.

Setelah sesi berbagi pengetahuan, pembahasan beralih ke pasar dan jaminan. Susilo dari PT Talasi, pembeli produk alami berbasis di Bali, membagikan bagaimana perusahaan sedang berkembang dan minat untuk menerima dan memasarkan madu hutan dari wilayah tambahan semakin meningkat. Kementerian Pertanian (KemenTan) dan Kementerian UMKM juga memberikan masukan, dengan yang pertama membagikan persyaratan baru tentang pendaftaran veteriner dan yang terakhir menyatakan minat untuk berkolaborasi.

Lima (5) madu dari 5 pulau: Jawa, Borneo, Flores, Timor, dan Sumbawa (Foto courtesy of Eman Kelen)

Bapak Rasdi Wangsa memaparkan tentang Forest Harvest Collective Mark (FHCM), label hutan komunitas yang baru muncul, yang didirikan bersama petani dan komunitas untuk mempromosikan dan membangun kepercayaan antara konsumen dan pembeli produk hutan seperti madu.

Pertemuan ditutup dengan blind honey taste testing, yang mengungkapkan karakteristik jelas dari berbagai madu, dengan peserta membagikan rasa kompleks madu hutan [1] dibandingkan dengan madu kotak sarang yang lebih sederhana dan kurang kompleks yang dihasilkan oleh lebah Italia impor.

Bagi yang menghadiri JMHI World Bee Day untuk pertama kalinya, ini merupakan pengalaman yang membuka wawasan tentang pentingnya madu hutan dan urgensi melindungi habitat lebah asli. Bagi peserta yang kembali dan anggota JMHI, ini adalah waktu untuk memulihkan energi dalam perjuangan bersama dan merumuskan strategi untuk mengatasi tantangan serta memanfaatkan peluang. Bagi semua, ini tentu saja waktu untuk “Bee Inspired by Nature to Nourish us All

  1. Artikel diterjemahkan dari: https://ntfp.org/exchange_news/buzzing-with-purpose-how-bees-and-nature-sustain-us/ ↩︎
  2. https://www.fao.org/pollination/news/news-detail/fao-unveils-the-theme-for-world-bee-day-2025/en ↩︎
  3. https://www.tribunnewswiki.com/2020/11/10/pabrik-madu-palsu-di-banten-dibongkar-polisi-produknya-ternyata-bisa-sebabkan-kematian ↩︎

Jumat, 7 Maret 2025

Hybrid, PARARA Indonesian Ehical Store dan Zoom Meeting 

Diskusi dimulai dengan sambutan pembuka dan penjelasan tujuan diskusi, yaitu membahas kriminalisasi yang dialami perempuan pejuang lingkungan dan HAM serta urgensi perlindungan hukum bagi mereka. Diskusi menyoroti fenomena SLAPP (Strategic Lawsuit Against Public Participation), yaitu upaya membungkam masyarakat yang bersuara kritis, terutama dalam memperjuangkan hak lingkungan dan hak hidup. Banyak masyarakat yang menyuarakan ketidakadilan justru dikriminalisasi menggunakan pasal-pasal hukum yang dicari-cari agar mereka terjerat. Sektor paling terdampak adalah perkebunan, kehutanan, dan pertambangan, sebagaimana data WALHI selama 10 tahun terakhir. Negara sendiri kerap kali berperan sebagai fasilitator atau bahkan pelaku SLAPP. Meski Indonesia memiliki Pasal 66 UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup serta Permen LHK No. 1 Tahun 2024, perlindungan hukum masih terbatas dan kurang memberikan efek jera. Tantangan lain yang dihadapi adalah belum adanya undang-undang partisipasi publik yang melindungi hak masyarakat secara luas.

Diskusi juga membahas kasus di Buol, Sulawesi Tengah. Sejak tahun 1995, masyarakat yang mayoritas adalah nelayan dan petani menghadapi perampasan lahan oleh PT Handaya Inti Plantation. Lahan pertanian seperti sawah, kebun kopi, dan kebun cokelat dirusak demi ekspansi sawit. Perusahaan menguasai lahan dengan izin HGU yang melebihi batas, sementara masyarakat yang memperjuangkan hak mereka menghadapi intimidasi dan kriminalisasi. Perempuan, yang banyak menjadi tulang punggung keluarga, harus bekerja sebagai buruh tani dengan upah rendah dan beban kerja ganda. Selain itu, masyarakat dibebankan utang sebesar Rp 1 triliun tanpa transparansi dari pihak perusahaan, memperparah ketidakadilan yang mereka alami.

Kasus lain diangkat dari Seluma, Bengkulu, di mana perempuan turut berjuang melawan tambang pasir besi sejak tahun 2010. Mereka menghadapi ancaman, intimidasi, dan pelecehan verbal saat mempertahankan sumber penghidupan berupa remis, sejenis kerang yang menjadi makanan pokok di saat paceklik dan menjadi simbol perjuangan mereka dalam mempertahankan laut mereka (termasuk pasir). Perusahaan tambang sempat berhenti beroperasi pada 2023, namun tekanan dari pihak aparat dan perangkat desa terus berlanjut agar warga menghentikan perlawanan. Meski demikian, para perempuan di Seluma membentuk komunitas demi menjaga kelestarian remis dan lingkungan desa mereka dan melanjutkan perjuangannya. Tambang pasir besi ini dianggap sebagai ancaman besar bagi ekosistem pesisir dan laut yang menjadi sumber kehidupan warga. Selain kerusakan lingkungan, penambangan juga mengancam hilangnya remis yang menjadi sumber ekonomi utama perempuan di sana. Perempuan Seluma memilih berada di garis depan karena pengalaman masa lalu di mana laki-laki yang berjuang lebih dulu mendapatkan represi keras, termasuk penangkapan dan intimidasi. Mereka terus bertahan meski mendapat ancaman hukum dan sosial dari berbagai pihak.

Tantangan besar yang dihadapi adalah paradoks kebijakan, di mana petani dihargai secara retorika, tetapi lahan mereka justru dialihfungsikan. Aparat penegak hukum juga kurang memahami SLAPP, meski sudah ada edaran dari Mahkamah Agung. Ketidakkonsistenan dalam memperjuangkan hak menjadi celah bagi pihak yang ingin membungkam gerakan rakyat. Konsistensi menjadi kunci, karena kompromi hanya akan memperpanjang rantai kekerasan dan ketidakadilan bagi generasi berikutnya.

12 Februari 2025

PARARA Indonesian Ethical Store, Kemang, Jakarta Selatan

26 orang Offline ; 5 Orang Online

Trend Asia adalah organisasi kampanye untuk transformasi energi dan pembangunan berkelanjutan di Asia. Salah satu fokus kerja Trend Asia adalah energi terbarukan. Indonesia memiliki cadangan batu bara yang cukup besar (peringkat ke-4 di Asia). Hal ini menjadi isu penting untuk dikampanyekan agar pemanfaatannya dihentikan, mengingat dampaknya terhadap krisis iklim dan perubahan iklim.

Sektor energi, khususnya yang berbasis batu bara dan turunannya, merupakan penyumbang emisi terbesar dalam krisis iklim. Indonesia sendiri menempati peringkat ke-6 dunia pada tahun 2022 sebagai penyumbang emisi karbon dari sektor energi. Selain itu, dalam kurun waktu 2013–2022, Indonesia menempati peringkat ke-2 dunia dalam penyumbangan emisi karbon akibat alih fungsi lahan.

Sebagian besar tambang batu bara di Indonesia menggunakan teknik open-pit mining, yang menyebabkan perambahan hutan dan alih fungsi lahan secara masif. Batu bara yang ditambang digunakan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), di mana batu bara dibakar untuk menghasilkan uap panas yang menggerakkan turbin dan kemudian dikonversi menjadi tenaga listrik. PLTU banyak terdapat di Pulau Jawa, sementara cadangan batu bara terbesar berada di Kalimantan dan Sumatera.

Saat ini, terjadi kelebihan pasokan listrik di Jawa, mencapai 40%, akibat banyaknya PLTU. Baik digunakan maupun tidak, kelebihan energi ini tetap harus dibayar, karena sebagian besar tenaga listrik dihasilkan oleh pihak swasta yang telah menjalin kerja sama dengan PLN. Beban pembayaran ini ditanggung oleh negara melalui APBN serta oleh masyarakat. Kondisi ini terjadi di sistem kelistrikan Jawa-Bali, yang saling terhubung, sedangkan di pulau-pulau lainnya, jaringan listrik masih belum terintegrasi satu sama lain.

Perubahan iklim kini menjadi masalah global. Indonesia telah berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon hingga 29% dengan usaha sendiri atau hingga 41% dengan bantuan internasional. Salah satu skema yang diusulkan adalah kemitraan transisi energi yang berkeadilan, yang bertujuan untuk memensiunkan PLTU yang sudah tua dan tidak lagi efisien. Penggantinya bisa berupa PLTU yang lebih baru atau dengan transisi ke energi terbarukan.

Energi terbarukan di Indonesia memiliki potensi besar, seperti tenaga air, tenaga surya, tenaga angin, dan panas bumi. Beberapa masyarakat yang tidak memiliki akses listrik dari pemerintah bahkan telah menerapkan penggunaan energi terbarukan secara mandiri.

Di beberapa lokasi, energi terbarukan sudah diterapkan dalam skala kecil, seperti di tingkat desa, sekolah, dan kecamatan. Pemanfaatan bendungan air, panel surya, serta tenaga angin telah berjalan dan menjadi solusi bagi daerah yang belum terjangkau oleh jaringan listrik nasional. Menariknya, sebagian besar lokasi yang menggunakan energi terbarukan justru merupakan wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar, di mana akses listrik dari PLN dan negara masih sangat terbatas.

Panas bumi juga merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang potensial. Namun, eksplorasi dan pemanfaatannya sering kali menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat, terutama karena cadangan panas bumi kerap berada di kawasan permukiman, hutan, atau wilayah lain yang memiliki nilai ekologis dan sosial yang tinggi. Oleh karena itu, pengembangan energi panas bumi masih menghadapi tantangan besar dalam memastikan penerapannya yang benar-benar berkelanjutan dan berkeadilan.

Pada Selasa, 11 Februari 2025, PARARA Indonesian Ethical Store mengadakan workshop membatik bersama Mba Endang dari Omah Batik Sekar Turi, Yogyakarta. Workshop ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengenal lebih dalam tentang batik, baik dari segi sejarah maupun teknik pembuatannya. Mba Endang memulai karier membatik pada tahun 2009 dengan mengusung tema pencampuran motif batik tradisional dan batik kontemporer menjadi satu motif baru.

Kegiatan dimulai dengan pemaparan mengenai batik dan berbagai motif tradisional yang berkembang di Indonesia. Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan konsep batik kontemporer atau intuitive batik, yang menawarkan kebebasan berekspresi melalui pola dan warna. Setelah sesi penjelasan, peserta langsung mempraktikkan teknik membatik pada sepotong kain, mengombinasikan motif tradisional dengan pendekatan kontemporer.

Dalam proses membatik, digunakan malam sebagai perintang warna, sementara pewarnaan dilakukan dengan pewarna alami berbasis indigo untuk mendapatkan warna biru. Pencelupan ke dalam indigo dilakukan dua kali untuk mendapatkan warna biru yang cukup kuat. Untuk mengunci warna, kain kemudian direndam dengan cuka dapur sebelum tahap akhir, yaitu peluruhan malam melalui proses perebusan dalam air panas.

Workshop ini tidak hanya menjadi ajang belajar teknik membatik, tetapi juga memperkuat apresiasi terhadap batik sebagai warisan budaya yang terus berkembang seiring waktu.

23 Januari 2025  
PARARA Indonesian Ethical Store
14 orang hadir Offline

Slogan "sehat" sering membuat makanan terdengar kurang menarik, terutama bagi anak muda. Daripada hanya menekankan aspek kesehatan, strategi pemasaran dapat lebih menonjolkan faktor lain yang lebih menarik, seperti cita rasa, pengalaman makan, atau cerita di balik produk.

Target pasar juga harus ditentukan dengan jelas. Jika sasarannya adalah anak muda, maka pendekatannya perlu lebih simpel, modern, dan sesuai dengan preferensi mereka. Gen Z cenderung menyukai sesuatu yang praktis, memiliki desain visual yang menarik, serta memiliki cerita yang membuat mereka merasa terhubung dengan produk tersebut.

Salah satu cara untuk meningkatkan daya tarik adalah dengan menerapkan storytelling pada menu. Selain mencantumkan nama makanan atau minuman, informasi tambahan seperti asal-usul bahan baku, petani yang memproduksi, atau daerah asal makanan tersebut dapat disertakan. Hal ini tidak hanya meningkatkan nilai produk tetapi juga memberikan pengalaman yang lebih bermakna bagi konsumen. Sebagai contoh, makanan berbahan dasar lokal yang kurang umum, seperti mie sagu atau brownies sorgum, mungkin awalnya tidak memiliki daya tarik yang kuat. Namun, ketika konsumen mengetahui cerita di baliknya, mereka cenderung lebih menghargai dan menikmati produk tersebut.

Aspek harga juga menjadi pertimbangan penting, mengingat banyak yang menganggap makanan sehat cenderung mahal. Oleh karena itu, diperlukan strategi harga yang lebih inklusif, seperti paket bundling atau promosi yang membuat produk lebih terjangkau. Selain itu, citra makanan sehat yang sering dikaitkan dengan atlet atau pecinta olahraga perlu diperluas agar dapat menarik lebih banyak segmen pasar.

Pendekatan inovatif dalam menyesuaikan produk dengan preferensi anak muda juga menjadi kunci. Sebagai contoh, terdapat produsen kembang goyang yang bekerja sama dengan mahasiswa Binus dalam mengembangkan produk agar lebih sesuai dengan selera generasi muda. Hasil riset menunjukkan bahwa ukuran kecil lebih disukai karena lebih praktis dan tidak meninggalkan remah saat dikonsumsi. Inovasi ini memungkinkan produk tersebut berhasil menembus pasar ritel modern seperti Indomaret dan Alfamart di Tangerang.

Strategi pemasaran harus lebih relevan dengan kebiasaan dan preferensi anak muda saat ini. Pendekatan storytelling pada menu dinilai efektif dalam meningkatkan daya tarik dan nilai produk. Selain itu, diperlukan strategi komunikasi yang lebih menarik agar makanan sehat tidak hanya dikaitkan dengan gaya hidup mahal atau olahraga.

Pihak Binus menyatakan kesediaannya untuk berkolaborasi dalam penyelenggaraan workshop terkait pangan lokal atau kerajinan berbasis komunitas. Workshop ini diharapkan dapat menjadi wadah edukasi sekaligus memperluas pemahaman mengenai keberlanjutan pangan lokal di kalangan mahasiswa dan masyarakat umum. Selain itu, Parara juga dipertimbangkan sebagai platform potensial untuk memperkenalkan makanan lokal dengan konsep yang lebih modern dan sesuai dengan tren pasar saat ini.

Tanggal: 18 Oktober 2024.

Lokasi: Jakarta, PARARA Indonesian Ethical Store.

Acara Hari Pangan Sedunia ini mengumpulkan berbagai kelompok pemangku kepentingan untuk membahas masalah pangan yang mendesak di Indonesia dan mengeksplorasi jalur menuju kebijakan pangan yang berkelanjutan. Dengan fokus pada keterlibatan pemuda, diskusi bertujuan untuk mengatasi tantangan yang dihadapi oleh sistem pangan dan mempromosikan solusi inovatif.

Isu Utama yang Dibahas

Pertemuan ini mengidentifikasi beberapa tantangan kritis yang memengaruhi lanskap pangan Indonesia:

  • Pola Konsumsi: Perubahan kebiasaan konsumsi dan meningkatnya popularitas makanan instan.
  • Politik Pertanian: Perlunya dukungan yang lebih kuat untuk petani lokal di tengah meningkatnya impor.
  • Perubahan Iklim: Dampak lingkungan dari produksi pangan dan konsumsi daging yang berlebihan.
  • Pemborosan Pangan: Banyaknya pemborosan pangan yang terjadi, bersama dengan kekhawatiran mengenai sampah plastik.

Kegiatan Utama

Acara ini menampilkan berbagai kegiatan yang dirancang untuk mendorong dialog dan kolaborasi di antara peserta:

  • Diskusi Kebijakan: Strategi untuk mentransformasi sistem pangan dibahas dengan fokus pada perspektif pemuda.
  • Berbagi Pengalaman: Para peserta berbagi wawasan pribadi dan aspirasi terkait dengan sistem pangan.
  • Membangun Solidaritas: Upaya dilakukan untuk menyatukan aktivis pemuda yang terlibat dalam inisiatif pangan lokal.

Kebijakan Nasional untuk Transformasi Sistem Pangan (Pak Irfan, BAPPENAS)

  • Penurunan Tenaga Kerja Pertanian: Menyebutkan berkurangnya jumlah pemuda yang memasuki sektor pertanian akibat prospek pendapatan yang rendah.
  • Ketahanan Pangan: Menyoroti tantangan di daerah seperti NTB, di mana konsumsi pangan masih tidak mencukupi.
  • Rencana Jangka Panjang: Menekankan agenda pembangunan nasional 2025-2045 yang berfokus pada hak pangan dan penguatan institusi.

Keragaman dalam Konsumsi Pangan (Bu Rina, BAPANAS)

  • Keanekaragaman Hayati yang Kaya: Beragam sumber pangan Indonesia dipresentasikan sebagai hal penting untuk pola makan yang sehat.
  • Keterlibatan Pemuda: Peran pemuda sebagai agen perubahan dalam mempromosikan praktik berkelanjutan ditekankan.

Tantangan dalam Sistem Pangan (Pak Burhan, KEHATI)

  • Kerentanannya dan Kenaikan Harga: Membahas dampak ekonomi dan sosial dari kenaikan harga pangan.
  • Kedaulatan Pangan: Mengadvokasi sistem pangan berbasis komunitas dan produksi pangan lokal.

Eksperimen Memantik Cinta Lewat Rasa (Gita, Koalisi Ekonomi Membumi)

  • Koalisi Ekonomi Membumi: Sebuah gerakan gotong royong 34 organisasi untuk memperkuat sistem ekonomi yang berkelanjutan melalui inovasi keanekaragaman hayati.
  • Investasi Hilirisasi Indonesia: 91,72% dari target investasi hilirisasi Indonesia hingga 2040 difokuskan pada minyak, batubara, dan mineral lainnya.
  • Penguatan Rantai Nilai Inovasi Keanekaragaman Hayati: Fokus pada agroforestri dan pertanian regeneratif.
  • Makanan Bergizi Gratis: LKPP merancang kebijakan agar pemerintah daerah mengadakan pangan lokal.

Berdaulat dengan Pangan Lokal (Pak Ahmad Arif, Reporter Kompas)

  • Masalah Sistem Pangan Indonesia: Terdapat masalah di seluruh rantai pangan, mulai dari produksi, pemrosesan, distribusi, hingga konsumsi.
  • Kekurangan Gizi: Lebih dari separuh penduduk Indonesia tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi, berisiko obesitas.
  • Perubahan Pola Konsumsi: Konsumsi pangan meningkat sementara produksi menurun, dengan lebih dari 50% konsumsi beras berasal dari Jawa, yang hanya mencakup kurang dari 7% luas lahan Indonesia.
  • Contoh Perubahan Pola Konsumsi: Di NTT, masyarakat yang sebelumnya mengonsumsi jagung kini beralih ke beras, menjadikan NTT sebagai konsumen terbesar beras.
  • Food Estate: Contoh di Merauke, pemerintah menjadikan daerah ini lumbung pangan dunia.
  • Kedaulatan Pangan: Daerah seperti Boti dan Pulau Timor Timur memiliki kedaulatan pangan yang baik.
  • Transformasi Sistem Pangan: Keberagaman sumber pangan, pemanfaatan kebijakan dari sistem pangan lokal, dan pemenuhan kebutuhan pangan yang lebih beragam selain beras dan terigu.
  • Program Makan Siang Gratis: Dapat diimplementasikan dengan anggaran Rp 15.000, asalkan menggunakan pangan lokal dan melibatkan masyarakat lokal.

Sesi Tanya Jawab

Para peserta terlibat dalam diskusi yang hidup mengenai topik-topik seperti:

  • Pendapatan Petani: Strategi untuk meningkatkan penghasilan petani melalui peningkatan koneksi pasar.
  • Edukasi Pangan Lokal: Perlunya peningkatan kesadaran di kalangan masyarakat mengenai sumber pangan lokal.
  • Dukungan Pemerintah: Pentingnya dukungan pemerintah terhadap inisiatif pertanian lokal.
  • Pemetaan pangan lokal dan pasar terbatas: Program tetap berjalan, kunci kolaborasi dan pengawasan implementasi. Food estate kurang studi kelayakan, ketahanan pangan dimulai dengan konsumsi pangan lokal.
  • Pengelolaan SDA untuk pangan lokal: Bantuan pangan melumpuhkan produksi lokal, seperti di Boti yang memilih pangan lokal.
  • Kesadaran remaja kota terhadap nutrisi pangan: Pemerintah fokus pada target-target yang ditetapkan.

Acara Hari Pangan Sedunia ini menekankan pentingnya reformasi kebijakan yang komprehensif, keterlibatan aktif masyarakat, dan pendekatan inovatif untuk membangun sistem pangan yang tangguh dan inklusif di Indonesia. Keterlibatan aktif pemuda dianggap sangat penting untuk mencapai pembangunan berkelanjutan di sektor pangan.

Hari ke 2: 19 Oktober 2024

Pada 19 Oktober 2024, pemuda dari berbagai daerah dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk berdiskusi mengenai naskah "Transformasi Sistem Pangan Negara Kepulauan: Suara Masyarakat Sipil untuk Perubahan Kebijakan Menuju Sistem Pangan yang Beragam, Adil, dan Lestari". Setiap kelompok menyajikan solusi dari 8 agenda yang terdapat dalam naskah tersebut. Hasil diskusi ini kemudian menghasilkan deklarasi Orang Muda Peduli Pangan Lokal dan terbentuklah komunitas baru anak muda yang bernama Orang Muda Peduli Pangan Lokal (OMPPL).

Copyright 2025 © Panen Raya Nusantara
crossmenu-circle linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram