
Mie goreng dan nasi goreng adalah dua dari sekian menu andalan makanan Indonesia. Ada juga kepercayaan tentang makan mie, terutama dalam budaya Tionghoa dan Asia Timur yang kaitannya sangat erat dengan doa dan simbolisme. Mie melambangkan harapan akan umur panjang, kesehatan, dan kelancaran rezeki yang terus mengalir tanpa putus. Kini simbol itu menemukan wujud nyata yang tidak hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga menyelamatkan ekosistem. Kisah ini hidup di Sungai Tohor, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. Di wilayah ini, pohon sagu bukan sekadar sumber karbohidrat lokal, melainkan penjaga rawa gambut yang menyimpan cadangan air tanah dan menciptakan iklim stabil sepanjang tahun. Berbeda dengan lahan kering yang rentan terbakar, kebun sagu tumbuh subur di wilayah basah dan secara alami menjaga kelembapan lingkungan. Luas lahan perhutanan sosial di Sungai Tohor mencapai 2.940 hektar yang ditanami sagu dan karet. Sebelumnya lahan ini dikelola oleh PT Lestari Unggul Makmur, namun pada tahun 2016 hak pengelolaan diserahkan kepada masyarakat melalui Kelompok Perhutanan Sosial. Abdul Manan atau yang akrab disapa Cik Manan, tokoh masyarakat dan petani sagu, menekankan bahwa mempertahankan sagu sama artinya dengan menjaga rawa tetap basah sehingga kebakaran hutan dan lahan dapat dicegah. Dari kearifan merawat alam inilah lahir inovasi kuliner yang kini dikenal sebagai Mie Sagu Sungai Tohor, wujud nyata ketahanan pangan berbasis ekosistem.

Usaha ini dikelola oleh UMKM Sago Mie Tohor Lestari yang digerakkan oleh semangat melestarikan pangan lokal sekaligus membuka ruang penghidupan inklusif. Cik Manan memulai perjalanan pada tahun 2008 setelah kembali ke kampung halamannya dari Tembilahan, membuka kilang pengolahan sagu basah dengan dukungan keluarga. Pada tahun 2010, pembiayaan dari Bank Riau Kepri Syariah memungkinkan ekspansi menjadi dua kilang dengan kapasitas 200 tual per hari. Tim produksi terdiri dari 8 pekerja tetap, di mana 5 di antaranya adalah perempuan lokal yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses pekerjaan formal. Mereka bekerja dari pukul 5 pagi hingga 10 pagi agar tetap bisa mengurus keluarga. Sistem penggajian mengadopsi prinsip perdagangan berkeadilan tanpa praktik pekerja anak, karena proses produksi membutuhkan kekuatan fisik dan keterampilan khusus. Upah dibayar secara borongan, di mana setiap 50 kilogram tepung sagu menghasilkan Rp100.000,- bagi tim, atau setara dengan Rp70.000,- per hari. Skema ini menjamin kesejahteraan langsung sekaligus memperkuat posisi tawar pekerja di tingkat desa.

Proses pembuatan mie sagu merupakan perpaduan ketelitian tradisional dan disiplin produksi terukur. Cik Manan menerapkan metode pencucian bertingkat menggunakan air gambut bersih, menghasilkan pati sagu terang dan tidak berbau. Cik Manan berharap adanya pengadaaan prasarana penampungan air hujan untuk mencuci sagu. Selama ini merebus dengan air gambut, warna airnya akan berubah menjadi merah. Sehingga hasilnya kurang bagus. Jika menggunakan air dari sumur bor, maka rasa airnya akan menjadi payau. Jadi idealnya adalah menggunakan air hujan, dan inilah mengapa sarana penampungan sangat diperlukan. Lalu setelah proses pencucian, tepung sagu basah yang telah diendapkan diuleni, direbus singkat hingga permukaannya membentuk lapisan pati kuat, lalu dianginkan di atas pelepah rumbia semalaman. Pelepah rumbia dipilih karena permukaannya luas memungkinkan sirkulasi udara merata sehingga lembaran tidak saling menempel. Proses penjemuran sengaja dilakukan di dalam ruangan agar lembaran sagu tidak langsung terkena sinar matahari dan berkerut. Keesokan harinya, lembaran lentur tersebut digiling mesin menjadi potongan mie kenyal. Kapasitas produksi mencapai 1,2 ton per bulan, dengan daya tahan 1 bulan tanpa pendinginan. Pasar telah merambah Jakarta dan Kepulauan Riau. Jejak pemasaran melebar berkat kolaborasi dengan PARARA dan dukungan WALHI.

Di balik cerita mie sagu ini ada proses pembangunan infrastruktur lokal. Pada tanggal 27 November 2014, saat kunjungan Presiden Joko Widodo ke Sungai Tohor, Cik Manan menyampaikan gagasan untuk membuat sentra kilang sagu guna membantu petani dan membuka ekspor ke Malaysia. Sentra Kilang Sagu ini merupakan aset pemerintah daerah kabupaten Kepulauan Meranti, dibangun tahun 2017 hingga 2022, namun saat ini mangkrak karena tingginya biaya operasional. Kapasitas kilang mampu mengolah 300 ton sagu per bulan dan memerlukan modal sekitar Rp 900 juta untuk pembelian bahan baku. Lokasi sentra kini dipinjam masyarakat hanya untuk menjemur sagu. “Daripada kosong dan menjadi rumah hantu, lebih baik dipakai untuk menjemur sagu”, begitu canda masyarakat. Saat ini terdapat 40 UMKM di wilayah tersebut, dimana anggota kelompok Cik Manan sendiri berjumlah 27 orang.
Dampak keberadaan kelompok ini melampaui nilai ekonomi. Secara ekologis, permintaan mie sagu mendanai konservasi rawa gambut dan mencegah alih fungsi lahan menjadi monokultur rentan kekeringan. Manfaat sagu secara ilmiah telah dikonfirmasi oleh berbagai studi terkini. Penelitian yang dipublikasikan dalam Pertanika Journal of Science And Technology pada tahun 2023 menunjukkan bahwa pati sagu berperan krusial sebagai prebiotik alami untuk menjaga keseimbangan mikrobioma usus dan menurunkan risiko resistensi insulin (Zailani et al., 2023). Tinjauan sistematis dalam Frontiers in Nutrition tahun 2022 juga menegaskan bahwa indeks glikemik tepung sagu yang berada di kisaran 48 hingga 60 menjadikannya alternatif karbohidrat aman bagi penderita diabetes tipe dua dan sindrom metabolik (Afifah et al., 2022). Dari sisi lingkungan, studi pada Jurnal Biodiversitas tahun 2025 membuktikan bahwa ekosistem sagu di lahan gambut mampu menyimpan cadangan air tanah hingga 40 persen lebih tinggi dibandingkan lahan terbuka, sekaligus menyerap karbon dioksida dengan laju 23,29 ton per hektar per tahun, sehingga efektif memitigasi emisi gas rumah kaca (Dewi et al., 2025). Kehadiran industri hilir memberikan insentif langsung kepada petani hulu untuk mempertahankan kebun sagu daripada menjual pati basah dengan harga murah. Ini juga berhasil memutus sistem ijon yang sebelumnya merugikan petani.

Dibalik dampak yang diberikan, kendala nyata tetap mengiringi perjalanan ini. Ketergantungan pada sinar matahari untuk pengeringan menjadi hambatan utama saat musim hujan. Penjemuran di rumah kaca sebenarnya menjadi solusi, namun modal pembangunannya masih berat bagi petani kecil. Akses air bersih untuk pencucian juga bergantung pada air hujan tanpa bak penampungan memadai. “Namun kembali lagi, kami petani kecil yang tidak punya modal untuk membuat green house”, begitu dilanjutkan oleh Cik Manan. Di sisi pasar, persaingan dengan mie konvensional cukup ketat, kemasan masih sederhana, dan izin BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) belum lengkap. Karakteristik tekstur mie sagu yang kenyal dan memerlukan perendaman 10 hingga 15 menit sebelum dimasak masih butuh adaptasi konsumen.

Harapan ke depan sangatlah jelas. Tim berharap pendampingan untuk pengembangan kemasan menarik, logo kuat, dan fasilitas produksi berstandar. Inovasi resep menjadi prioritas, termasuk bumbu siap saji dalam kemasan kecil yang menyederhanakan proses memasak. Cik Manan mengusulkan lomba memasak kearifan lokal, karena penyajian mie sagu sangat bergantung pada keahlian koki. Resep pedas khas Melayu bisa dikolaborasikan dengan varian keju, atau diolah menjadi hidangan penutup berupa es cendol, karena tekstur mie sagu bisa diolah dalam bentuk cendol. Ia berharap mie sagu masuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk mempromosikan pangan lokal non gluten. “Jangan semua diterigukan”, tambahnya. Jika didukung tepat, model usaha ini akan memperkuat ketahanan pangan lokal dan membuktikan bahwa pelestarian ekosistem rawa dapat berjalan seiring pemberdayaan ekonomi inklusif.
Pengolahan sagu sangat berpotensi menjadi bentuk circular economy (ekonomi sirkular) melalui pendekatan zero waste (nol sampah). Batang dan daun pohon sagun bisa digunakan untuk material bangunan ramah lingkungan. Limbah yang dihasilkan seperti ampas dan kulit batang dapat diolah kembali menjadi produk bernilai tambah seperti pakan ternak, pupuk, energi terbarukan (biomassa). Menurut Cik Manan, ada juga potensi untuk memanfaatkan limbahnya untuk membuat kertas dan plastik. “Namun semua ini harus diujicobakan dulu, perlu keterlibatan akademisi, ahli, peneliti untuk mendampingi petani kecil seperti kami”. Ada kepercayaan juga dalam masyarakat di daerah lain, bahwa setelah kita memotong pohon sagu, kita harus menanam pohon sagu yang lain. Ini sangat mendukung upaya konservasi. Setiap bungkus mie sagu yang sampai ke tangan konsumen adalah bukti bahwa menjaga alam dan mensejahterakan masyarakat bukanlah dua tujuan yang bertolak belakang, melainkan satu langkah yang sama menuju masa depan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Afifah, D. N., Ningrum, Y. P. A., Syahidah, T., Nuryanto, N., Ayustaningwarno, F., & Sugianto, D. N. (2022). Nutrient Content, Organoleptic Quality, and Shelf Life of Sagon Substitute From Lindur (Bruguiera gymnorrhiza L.) and Soybean Flour (Glycine max L.), as an Alternative Emergency Food. Frontiers in Nutrition, 9. https://doi.org/10.3389/fnut.2022.878539
Dewi, T. M., Sumarni, W., Ridlo, S., & Marianti, A. (2025). Ethnobotanical role of sago in wetland biodiversity and resilience in the Riau Archipelago, Indonesia. BiodiversitasJournal of Biological Diversity, 26(12). https://doi.org/10.13057/biodiv/d261225
Zailani, M. A., Kamilah, H., Husaini, A., Awang Seruji, A. Z. R., & Sarbini, S. R. (2023). The Digestibility and Bacterial Growth Rates of Microwave Treated Sago (Metroxylon sagu) Starch. Pertanika Journal of Science and Technology, 31(5), 2283–2290. https://doi.org/10.47836/pjst.31.5.10